GemaWarta – 28 Juli 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau di Indonesia akan semakin meluas dalam beberapa hari ke depan. Data BMKG menunjukkan bahwa sekitar 72,8% wilayah Indonesia akan mengalami kemarau, dengan 509 zona musim yang diprediksi akan mengalami kondisi kering.
Fenomena El Nino diprediksi akan terus menguat hingga akhir tahun ini, menyebabkan suhu permukaan laut di Pasifik memanas secara tidak normal. Hal ini akan mengurangi pasokan uap air ke Indonesia, sehingga awan hujan lebih sulit terbentuk.
BMKG juga memantau indikator Hari Tanpa Hujan (HTH), yang menunjukkan bahwa beberapa daerah telah mencatat HTH lebih dari 60 hari, dengan rekor terlama mencapai 80 hari di Purworejo, Jawa Tengah.
Presiden Prabowo Subianto telah menggelar rapat terbatas dengan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dan Menteri Koordinator Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk membahas antisipasi cuaca ekstrem dan kebencanaan.
AHY mengungkapkan bahwa rapat terbatas tersebut membahas pengelolaan sumber daya air yang efisien, serta antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia juga menekankan pentingnya koordinasi dengan BMKG untuk melakukan operasi modifikasi cuaca.
Kepala Basarnas Marsekal Madya Mohammad Syafii mengatakan bahwa Basarnas akan tetap fokus pada tugas penanganan kedaruratan manusia, dan belum ada penambahan fasilitas atau peralatan khusus untuk menghadapi kemarau.
BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk periode 29-30 Juli 2026, dengan beberapa wilayah di Indonesia diprediksi akan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap cuaca panas, risiko kebakaran lahan, serta potensi hujan lebat mendadak di titik-titik tertentu.











