BERITA

Masinis Pantau Rel Setiap 2 km, Komisi V Dorong DDT untuk Cegah Kecelakaan Kereta

×

Masinis Pantau Rel Setiap 2 km, Komisi V Dorong DDT untuk Cegah Kecelakaan Kereta

Share this article
Masinis Pantau Rel Setiap 2 km, Komisi V Dorong DDT untuk Cegah Kecelakaan Kereta
Masinis Pantau Rel Setiap 2 km, Komisi V Dorong DDT untuk Cegah Kecelakaan Kereta

GemaWarta – 02 Mei 2026 | Jakarta, 2 Mei 2026 – Anggota Komisi V DPR, Sudjatmiko, mengusulkan agar masinis melakukan pemantauan rel setiap 2 kilometer melalui sistem monitor digital. Inisiatif ini muncul bersamaan dengan dorongan keras DPR untuk mempercepat pembangunan Double‑Double Track (DDT) di kawasan aglomerasi Jakarta‑Bekasi‑Cikarang. Kedua langkah strategis tersebut diharapkan dapat menurunkan angka kecelakaan kereta api yang masih tinggi, terutama pada perlintasan sebidang yang rawan.

Usulan masinis pantau rel ini berlandaskan pada fakta bahwa selama ini sebagian besar kecelakaan terjadi akibat kegagalan deteksi kerusakan pada rel yang hanya diperiksa secara periodik. Dengan memanfaatkan sensor‑sensor canggih yang terpasang tiap dua kilometer, data kondisi rel dapat dikirim secara real‑time ke pusat operasi PT Kereta Api Indonesia (KAI). Sistem ini memungkinkan respons cepat bila terdeteksi retakan, keausan, atau obstruksi lain yang mengancam keselamatan.

🔖 Baca juga:
Tragedi KRL Dorong Pemkot Bekasi Percepat Pembangunan Flyover Bulak Kapal Rp250 Miliar

Sudjatmiko menegaskan, “Kecelakaan kereta api di Bekasi Timur pada akhir April menjadi peringatan bahwa kita harus segera meningkatkan pengawasan teknis di lapangan. Pemantauan rel oleh masinis setiap 2 km merupakan solusi jangka pendek yang dapat dioperasikan sambil menunggu selesainya proyek DDT.” Ia menambahkan bahwa proyek DDT, yang memisahkan jalur kereta komuter (KRL) dan kereta jarak jauh, sudah mencapai fase akhir perencanaan. Saat ini, sebagian besar lahan menuju Cikarang telah dibebaskan, sehingga hambatan utama kini hanya pada eksekusi fisik.

Rofik Hananto, anggota Komisi V lainnya, menyoroti pentingnya sinergi antara teknologi pemantauan dan pengembangan infrastruktur. “Pembangunan jalur ganda‑ganda akan memberi ruang lebih bagi operasi kereta, namun tanpa pengawasan rel yang intensif, risiko tetap ada. Kedua upaya harus berjalan beriringan,” ujar Rofik dalam rapat kerja DPR pada 1 Mei 2026.

Dalam rangka menyiapkan sistem monitor, KAI telah menyiapkan 1.800 titik perlintasan sebidang yang akan dipasangi palang otomatis dan sensor getaran. Palang otomatis berfungsi sebagai langkah antisipatif sementara, sedangkan sensor getaran akan mendeteksi getaran abnormal yang menandakan potensi keretakan pada rel. Data tersebut akan ditampilkan di dashboard pusat kontrol, dimana operator dapat mengirimkan perintah penghentian kereta atau penjadwalan perbaikan.

🔖 Baca juga:
Menteri PPPA Usulkan Pindah Gerbong Perempuan ke Tengah Kereta: Kontroversi, Kritik, dan Permintaan Maaf

Implementasi pemantauan ini juga diharapkan dapat mengurangi beban kerja masinis yang selama ini mengandalkan inspeksi visual. Dengan bantuan teknologi, masinis dapat fokus pada operasi kereta dan koordinasi jadwal, sementara sistem otomatis menangani deteksi dini. “Kami tidak bermaksud menggantikan peran masinis, melainkan memperkuatnya dengan alat bantu modern,” jelas Kepala Divisi Operasi KAI, Budi Santoso.

Selain aspek teknis, DPR menekankan pentingnya penegakan aturan bagi pengguna jalan di perlintasan sebidang. Tilang dan pengawasan intensif akan diterapkan secara lebih ketat, mengingat sebagian besar kecelakaan di wilayah Jabodetabek dipicu oleh pelanggaran rambu lalu lintas. Edukasi berkelanjutan melalui media sosial, papan informasi di stasiun, dan program sekolah juga menjadi bagian dari strategi keselamatan jangka panjang.

Jika proyek DDT selesai tepat waktu, jalur KRL khusus akan melayani mobilitas harian perkotaan, sementara jalur lainnya difungsikan untuk kereta jarak jauh dan logistik. Pemisahan jalur ini diharapkan menekan konflik operasional, meningkatkan ketepatan waktu, dan memberikan ruang bagi penambahan frekuensi kereta tanpa mengorbankan keamanan.

🔖 Baca juga:
IPW Ungkap Praktik Korupsi Polisi YS: Broker Proyek di Bekasi dan Kekayaannya yang Menggila

Secara keseluruhan, kombinasi antara masinis pantau rel setiap 2 km dan percepatan pembangunan DDT menjadi agenda prioritas Komisi V. Kedua langkah tersebut diharapkan dapat menurunkan angka kecelakaan, meningkatkan kepercayaan publik, serta mendukung transformasi sistem perkeretaapian Indonesia menjadi lebih modern dan aman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *