Daerah

Misteri Buaya Racun di Sungai Mandar: Warga Tinambung Temukan Mayatnya setelah Serangkaian Serangan Mematikan

×

Misteri Buaya Racun di Sungai Mandar: Warga Tinambung Temukan Mayatnya setelah Serangkaian Serangan Mematikan

Share this article
Misteri Buaya Racun di Sungai Mandar: Warga Tinambung Temukan Mayatnya setelah Serangkaian Serangan Mematikan
Misteri Buaya Racun di Sungai Mandar: Warga Tinambung Temukan Mayatnya setelah Serangkaian Serangan Mematikan

GemaWarta – 05 Mei 2026 | Serangkaian kejadian mengerikan menimpa warga Kelurahan Tinambung, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) pada awal April 2026. Seekor buaya betina berukuran sekitar 2,8 meter, yang telah menewaskan seorang pria bernama Muhlis (50 tahun) dan melukai tiga orang lainnya, akhirnya ditemukan mati mengapung di Sungai Mandar. Menurut keterangan saksi, kematian buaya tersebut diduga akibat memakan umpan yang diperkaya racun.

Penemuan bangkai buaya terjadi pada Senin, 4 Mei 2026, sekitar pukul 07.00 WITA, ketika seorang warga bernama Salman sedang mencari kerikil di pinggir sungai. Salman mengaku secara sengaja menyiapkan empat umpan beracun dengan harapan dapat melumpuhkan buaya yang selama ini mengganggu aktivitas warga. “Saya pasang umpan yang diberi racun, ada satu yang dimakan,” ungkapnya.

🔖 Baca juga:
Jadwal KRL Solo-Jogja Akhir Pekan 2‑3 Mei 2026: Lebih Banyak Kereta, Waktu Lebih Fleksibel

Salman meyakini buaya yang kini ditemukan mati adalah buaya yang menimbulkan serangkaian teror di wilayah tersebut. Ia menyatakan, “Itu yang menerkam, yang membunuh Muhlis karena saya tahu sekali warnanya.” Setelah penemuan, bangkai buaya segera dievakuasi ke daratan dan kemudian dikubur oleh warga setempat.

Berikut rangkaian kronologis kejadian yang terjadi dalam dua minggu terakhir:

  • 23 April 2026 (Kamis malam): Buaya menyerang Muhlis saat ia sedang mandi di Sungai Mandar. Luka gigitan terlihat pada leher dan dada korban, yang kemudian meninggal di lokasi.
  • 24 April 2026 (Jumat): Lurah Tinambung, Ali Sadikin, mengonfirmasi kematian Muhlis dan menjelaskan proses pencarian korban selama dua jam melibatkan warga dan nelayan.
  • 29 April 2026 (Rabu sore): Seorang lansia bernama Mustari (72 tahun) hampir menjadi korban berikutnya saat hendak menyeberang sungai. Beruntung, ia berhasil melarikan diri ke tebing yang lebih tinggi.
  • 4 Mei 2026 (Senin pagi): Bangkai buaya ditemukan mengapung, diduga mati akibat memakan umpan buaya racun yang dipasang oleh Salman.

Setelah insiden pertama, pihak berwenang membentuk tim gabungan untuk mengevakuasi dan mengamankan buaya liar di wilayah sungai. Rifai, koordinator tim, menyatakan, “Insyaallah dengan tim gabungan bersama kami akan melakukan pencarian hewan liar ini untuk kemudian bisa kami amankan sehingga warga di pesisir sungai Mandar ini merasa aman.”

🔖 Baca juga:
Drama Tragis di Pantai Payangan: Pemancing Tenggelam Payangan Ditemukan Meninggal Setelah Lima Hari Pencarian

Meski buaya betina tersebut telah mati, warga melaporkan masih ada buaya lain yang berkeliaran, termasuk anak buaya berukuran sekitar satu meter. Salman menambahkan, “Masih ada buaya lain, ini kan buaya betina, ada anaknya yang berkeliaran ukuran sekira satu meter.”

Sementara itu, wilayah Polman juga dilanda masalah infrastruktur. Pada hari yang sama, Jembatan Pussepang di Kecamatan Tapango amblas akibat banjir, memaksa pengendara memutar sejauh 20 kilometer. Kejadian ini menambah beban psikologis warga yang sudah lelah dengan serangan buaya.

Petugas setempat terus melakukan penyelidikan untuk memastikan apakah racun yang dipasang pada umpan buaya merupakan tindakan pribadi atau terdapat unsur kriminalitas lain. Sementara itu, warga diminta tetap waspada dan menghindari aktivitas di daerah aliran sungai sampai situasi dinyatakan aman.

🔖 Baca juga:
Prestasi Gemilang Daerah di Hari Otonomi Daerah 2026: Dari DKI Jakarta hingga Papu dan Tangerang

Dengan berakhirnya kasus buaya racun ini, harapan masyarakat Tinambung adalah agar otoritas segera meningkatkan patroli dan program pengendalian satwa liar, sekaligus mempercepat perbaikan infrastruktur yang rusak. Kejadian ini menjadi peringatan penting tentang interaksi manusia dengan lingkungan alam yang harus dikelola secara hati-hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *