GemaWarta – 12 Mei 2026 | Belakangan ini, peristiwa politik yang cukup menarik perhatian masyarakat internasional terjadi di Filipina dan Indonesia. Di Filipina, Wakil Presiden Sara Duterte baru saja dimakzulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Filipina atas tuduhan korupsi dan pelanggaran konstitusi. Sementara itu, di Indonesia, Adela Kanasya Adies dilantik sebagai anggota DPR RI melalui mekanisme pergantian antarwaktu (PAW), menggantikan ayahnya, Adies Kadir, yang terpilih sebagai hakim Mahkamah Konstitusi (MK).
Pemakzulan Wakil Presiden Sara Duterte merupakan peristiwa yang cukup mengejutkan, karena ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Filipina, seorang wakil presiden dimakzulkan dua kali. Kasus ini akan dibawa ke Senat untuk menjalani persidangan yang berpotensi menghancurkan ambisinya dalam pemilihan presiden mendatang.
Sementara itu, di Indonesia, pelantikan Adela Kanasya Adies sebagai anggota DPR RI melalui PAW menarik perhatian karena latar belakangnya yang unik. Adela merupakan seorang dokter estetika yang meraih 12.792 suara di Dapil I Jatim pada Pemilu 2024, menjadikannya peraih suara terbanyak kedua di internal Partai Golkar, tepat di bawah ayahnya yang meraih 147.185 suara.
Peristiwa lain yang tidak kalah menarik adalah kasus mantan Kepala Polisi Filipina, Ronald dela Rosa, yang kabur dari penangkapan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) karena tuduhan korupsi dan pelanggaran konstitusi. Dela Rosa dituduh sebagai "pelaku tidak langsung" dalam pembunuhan terhadap sedikitnya 32 orang antara 2016 dan 2018 dalam operasi antinarkoba.
Kesimpulan dari peristiwa-peristiwa tersebut adalah bahwa politik di Filipina dan Indonesia masih dipenuhi dengan dinamika yang kompleks dan menarik. Pemakzulan Wakil Presiden Sara Duterte, pelantikan Adela Kanasya Adies, dan kasus Ronald dela Rosa menunjukkan bahwa kedua negara tersebut masih menghadapi tantangan dalam menjaga keadilan dan memerangi korupsi.











