GemaWarta – 15 Mei 2026 | Baru-baru ini, terjadi kasus keracunan makanan yang menimpa ratusan siswa di Jakarta Timur dan Surabaya. Kasus ini terkait dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diselenggarakan oleh pemerintah. Menurut laporan, sebanyak 252 siswa di Jakarta Timur dan 210 siswa di Surabaya mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Investigasi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menemukan bahwa penyebab keracunan adalah cemaran mikrobiologi akibat penggunaan bahan baku basi serta proses pengolahan makanan yang tidak sesuai standar. Dapur SPPG Pulogebang terbukti mengabaikan prosedur sanitasi, tidak memiliki sertifikat laik higiene, dan menyimpan makanan melebihi batas waktu aman.
Di Surabaya, kasus keracunan massal juga terjadi karena SPPG Bubutan Tembok Dukuh tidak mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan. Hasil inspeksi kesehatan lingkungan menunjukkan bahwa dapur tersebut tidak memenuhi standar higiene sanitasi pangan. Proses thawing atau pencairan daging dilakukan di suhu ruang selama sekitar dua jam, yang dinilai berisiko memicu pertumbuhan bakteri.
Kasus keracunan ini menimbulkan kekhawatiran tentang kualitas dan keamanan makanan yang disediakan oleh program MBG. Pemerintah harus segera mengambil tindakan untuk memastikan bahwa makanan yang disediakan aman dan sehat untuk dikonsumsi. Selain itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang keamanan pangan dan higiene sanitasi di kalangan masyarakat.
Dalam rangka meningkatkan kualitas dan keamanan makanan, pemerintah dapat melakukan beberapa hal, seperti memperketat pengawasan dan inspeksi terhadap penyedia makanan, meningkatkan kapasitas dan kemampuan penyedia makanan, serta melakukan edukasi dan pelatihan tentang keamanan pangan dan higiene sanitasi. Dengan demikian, kasus keracunan seperti ini dapat dicegah dan dihindari di masa depan.











