GemaWarta – 13 Mei 2026 | Sindrom ovarium polikistik (PCOS) telah lama dikenal sebagai salah satu gangguan hormon yang paling umum di dunia. Namun, nama tersebut telah dianggap tidak akurat dan menyesatkan. Oleh karena itu, para ahli internasional merekomendasikan perubahan nama PCOS menjadi polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS).
Perubahan nama ini dipublikasikan dalam jurnal The Lancet dan didukung oleh organisasi endokrinologi internasional seperti Endocrine Society. Nama baru tersebut mencerminkan perubahan besar dalam cara dunia medis memahami kondisi ini. PMOS melibatkan banyak sistem hormon dan gangguan metabolik, bukan sekadar masalah ovarium atau kista reproduksi.
Salah satu alasan utama perubahan nama ini adalah karena istilah PCOS dianggap terlalu sempit dan tidak akurat. Tidak semua pasien memiliki kista, dan ovarium hanya memiliki banyak folikel kecil yang belum berkembang sempurna. Oleh karena itu, istilah ‘kista’ dianggap menyesatkan dan sering membuat pasien salah paham terhadap diagnosis mereka sendiri.
PMOS juga melibatkan banyak sistem tubuh, termasuk resistansi insulin, diabetes tipe 2, obesitas, gangguan lipid, inflamasi kronis, sleep apnea, depresi, kecemasan, hingga peningkatan risiko penyakit kardiometabolik. Artinya, penyakit ini melibatkan banyak sistem tubuh dan tidak hanya terbatas pada ovarium.
Perubahan nama ini diharapkan dapat menggeser fokus penanganan menjadi lebih holistik, mencakup kesehatan metabolik, mental, dan kualitas hidup pasien secara keseluruhan. Dengan demikian, pasien dapat mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif dan efektif.
Sekarang, PMOS telah menjadi nama resmi untuk kondisi ini, dan para ahli berharap bahwa perubahan ini dapat membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang penyakit ini. Dengan nama yang lebih akurat, diharapkan pasien dapat mendapatkan penanganan yang lebih baik dan hidup yang lebih sehat.
Kesimpulan dari perubahan nama PCOS menjadi PMOS adalah bahwa kondisi ini melibatkan banyak sistem hormon dan gangguan metabolik, bukan sekadar masalah ovarium atau kista reproduksi. Perubahan nama ini diharapkan dapat menggeser fokus penanganan menjadi lebih holistik dan membantu pasien mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif dan efektif.











