BERITA

Kill Chain: Bagaimana Budaya Kopi Yaman Mengglobal dan Mengubah Lanskap Kafe di AS

×

Kill Chain: Bagaimana Budaya Kopi Yaman Mengglobal dan Mengubah Lanskap Kafe di AS

Share this article
Kill Chain: Bagaimana Budaya Kopi Yaman Mengglobal dan Mengubah Lanskap Kafe di AS
Kill Chain: Bagaimana Budaya Kopi Yaman Mengglobal dan Mengubah Lanskap Kafe di AS

GemaWarta – 14 Mei 2026 | Budaya kopi Yaman telah menjadi fenomena global, terutama di Amerika Serikat. Yaman, sebuah negara yang terletak di semenanjung Arab, telah memperkenalkan kopi kepada dunia sejak ratusan tahun yang lalu. Namun, kini Yaman tidak hanya memperkenalkan kopi, tetapi juga budaya kopi yang unik dan menarik.

Di AS, kafe-kafe Yaman telah bermunculan dengan cepat. Menurut data dari Technomic, sebuah perusahaan konsultasi industri restoran, jumlah kafe Yaman yang dimiliki oleh enam rantai besar telah meningkat 50% pada tahun lalu, menjadi 136 kafe. Ini tidak termasuk kafe-kafe kecil dan independen yang juga menyajikan kopi dan teh impor dari Yaman.

🔖 Baca juga:
Menhan RI dan AS Tandatangani Kemitraan Pertahanan Utama di Pentagon: Langkah Besar untuk Stabilitas Indo‑Pasifik

Budaya kopi Yaman memang unik dan menarik. Kafe-kafe Yaman biasanya buka sampai larut malam, bahkan sampai pukul 3 pagi, terutama selama bulan Ramadan. Ini menjadi tempat yang ideal bagi orang-orang yang ingin bersosialisasi tanpa harus minum alkohol. Menurut survei Gallup, hanya 54% orang dewasa di AS yang minum alkohol, yang merupakan persentase terendah dalam 90 tahun terakhir.

Salah satu alasan kafe Yaman menjadi populer adalah karena mereka menyajikan pengalaman yang autentik dan unik. Ahmad Badr, pemilik kafe Arwa Yaman di Sunnyvale, California, mengatakan bahwa mereka ingin membawa budaya kopi Yaman ke AS. "Di Timur Tengah, malam kami adalah kopi, bukan alkohol. Kami ingin membawa itu ke sini," katanya.

Faris Almatrahi, co-founder dan pemilik kafe Arwa Yaman, mengatakan bahwa perang saudara di Yaman yang berlangsung sejak 2014 telah mencegah orang-orang Yaman mengunjungi tanah air mereka. Oleh karena itu, mereka mencoba membawa pengalaman Yaman ke AS. Kafe-kafe Arwa Yaman dihias dengan warna alam yang khas, dengan lengkungan yang menyerupai masjid dan lampu yang berbentuk seperti topi petani kopi Yaman.

🔖 Baca juga:
Metz Bertransformasi: Dari Kota Bersejarah Menjadi Pusat Inovasi dan Budaya di Jantung Eropa

Menurut Almatrahi, sebagian besar pelanggan mereka tidak berasal dari keturunan Arab. Namun, orang-orang dari berbagai latar belakang telah mencari pengalaman global yang autentik dan unik. Menus kafe Yaman biasanya menyajikan spesialisasi seperti teh Adeni, yang merupakan teh rempah yang mirip dengan chai, dan qishr, yang merupakan minuman tradisional yang terbuat dari kulit kopi.

Dalam beberapa tahun terakhir, kafe-kafe Yaman telah menjadi bagian dari lanskap kopi di AS. Mereka menawarkan pengalaman yang unik dan autentik, yang tidak hanya memuaskan selera, tetapi juga memperkaya pengetahuan dan pemahaman tentang budaya Yaman.

Di sisi lain, peristiwa lain yang terjadi di AS adalah kasus seorang pria yang harus mendaftar sebagai pelaku kejahatan seksual karena berteriak hal-hal yang tidak senonoh kepada siswa sekolah menengah di Livermore. Randy Madrigal, 52 tahun, harus mendaftar sebagai pelaku kejahatan seksual selama 10 tahun dan menjalani masa percobaan selama dua tahun.

🔖 Baca juga:
Piala Dunia FIFA 2026: Persiapan dan Antisipasi Menghadapi Turnamen Sepak Bola Terbesar

Kasus ini menunjukkan bahwa kejahatan seksual masih menjadi masalah yang serius di AS. Namun, dengan adanya kafe-kafe Yaman yang menyajikan pengalaman yang autentik dan unik, masyarakat dapat menemukan alternatif yang lebih sehat dan bermanfaat untuk menghabiskan waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *