GemaWarta – 20 April 2026 | Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa Indonesia akan menghentikan impor solar mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini diumumkan dalam pidato kunci pada wisuda ke-133 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, sekaligus menandai peluncuran program biodiesel 50 persen (B50) yang berbasis kelapa sawit.
Penghentian impor solar menjadi bagian penting dari upaya pemerintah memperkuat kemandirian energi nasional. Menurut Mentan, sawit tidak hanya dapat diolah menjadi solar, tetapi juga menjadi bahan bakar bensin dan etanol. Ia menekankan bahwa ini adalah energi masa depan Indonesia karena sumbernya dari sawit; sawit jadi solar, sawit juga jadi bensin.
Untuk mendukung transisi energi, Kementerian Pertanian bekerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) dalam mengembangkan bensin berbasis sawit pada skala percobaan. Jika berhasil, produksi akan diperluas menjadi industri berskala besar.
Selain kebijakan energi, Mentan juga meninjau inovasi teknologi pertanian di ITS, termasuk traktor listrik yang lebih hemat dan tidak menggunakan solar. Pemerintah memesan sepuluh unit traktor listrik untuk uji coba, menyebutkan bahwa harga traktor tersebut setengah dari traktor konvensional.
Dalam rangka memastikan ketahanan pangan, Andi Amran Sulaiman melakukan kunjungan kerja ke gudang BULOG di Surabaya, Jawa Timur. Direktur Utama Perum BULOG, Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, melaporkan bahwa cadangan beras pemerintah telah mencapai 4,9 juta ton, tingkat tertinggi dalam sejarah Indonesia, dengan target mendekati 5 juta ton.
Menteri menilai keterbukaan BULOG dalam menampilkan stok pangan secara transparan sebagai langkah penting membangun kepercayaan publik. Ia menyatakan bahwa melihat langsung bagaimana BULOG bekerja dengan transparan penting untuk membangun kepercayaan publik, karena ada cross‑check dari berbagai unsur masyarakat.
Langkah-langkah strategis ini juga mencakup persiapan menghadapi potensi dampak iklim, seperti fenomena El Nino. Pemerintah memperkuat sistem irigasi dan program pertanian berkelanjutan untuk mengurangi risiko terhadap produksi pangan.
Secara keseluruhan, kebijakan penghentian impor solar, penerapan B50, pengembangan traktor listrik, serta penguatan cadangan beras di BULOG menunjukkan sinergi antara sektor energi dan pangan. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian energi, menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan visi energi masa depan berbasis sumber lokal, pemerintah menatap masa depan yang lebih cerah, di mana Indonesia tidak hanya menjadi produsen minyak sawit terkemuka, tetapi juga pemimpin dalam bioenergi dan ketahanan pangan.











