GemaWarta – 01 Mei 2026 | Jakarta – Pada kuartal pertama 2026, produksi migas Pertamina mencatat pencapaian yang melampaui target yang ditetapkan pemerintah. Keberhasilan ini merupakan hasil sinergi antara ekspansi perusahaan asing, investasi peralatan modern, serta strategi efisiensi yang dijalankan oleh unit-unit usaha hulu Pertamina.
Direktur Utama Pertamina Drilling, Avep Disasmita, mengungkapkan bahwa kontrak penyediaan jack‑up rig kepada ADES untuk pengembangan Lapangan Gas Mako di wilayah Natuna akan menambah kapasitas produksi sekitar 120 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Proyek ini tidak hanya memperkuat pasokan gas domestik, tetapi juga mendukung target lifting nasional yang sempat terancam oleh penurunan produksi alami.
Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menegaskan bahwa sektor hulu migas Indonesia masih menjadi magnet bagi investor internasional. Ekspansi Jadestone Energy menjadi contoh konkret. Saat ini Jadestone mengoperasikan wilayah kerja Lemang di Jambi dengan rata‑rata produksi 6.400 barel setara minyak per hari (boepd) dan terus menargetkan akuisisi aset‑aset produksi maupun pengembangan di seluruh kepulauan.
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menambahkan dimensi kolaboratif dengan menekankan pentingnya kemitraan lintas sektor. Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Danusaputro, menyatakan bahwa strategi peningkatan produksi migas Pertamina harus bersifat terukur, memadukan agresivitas investasi dengan efisiensi biaya. PHE juga terus mengevaluasi kelayakan proyek, mengoptimalkan sumur‑sumur yang sudah ada, serta memanfaatkan insentif fiskal yang diberikan pemerintah.
Di sisi keuangan, anak perusahaan Pertamina, PT Elnusa Tbk, mencatat arus kas operasi yang melonjak 267 persen pada kuartal I 2026, mencapai Rp1,04 triliun. Laba bersih mencapai Rp190 miliar, menunjukkan disiplin biaya dan peningkatan margin operasional. Kinerja kuat ini memberikan ruang likuiditas bagi Elnusa untuk mendukung proyek‑proyek hulu, termasuk kerjasama dengan PHE dan kontraktor internasional.
- Ekspansi Jadestone di Jambi: 6.400 boepd.
- Jack‑up rig di Natuna: kapasitas 120 MMSCFD gas.
- PHE fokus pada kemitraan dan efisiensi investasi.
- Elnusa memperkuat arus kas, mendukung proyek hulu.
Namun, tantangan tetap ada. Program hilirisasi yang digalakkan pemerintah, meski mengusung investasi besar, harus diintegrasikan dengan strategi hulu untuk memastikan nilai tambah yang berkelanjutan. Pengamat ekonomi energi, Fahmy Radhi, menyoroti pentingnya menghubungkan proyek hilirisasi dengan peningkatan produksi migas, agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Secara keseluruhan, pencapaian produksi migas Pertamina yang melampaui target merupakan hasil dari kombinasi faktor: pengembangan lapangan baru, modernisasi infrastruktur, dukungan regulasi, serta kolaborasi antara unit usaha pertamina, investor asing, dan perusahaan layanan migas. Ke depan, diharapkan pencapaian ini dapat menjadi pijakan kuat untuk mencapai kemandirian energi dan mendukung transisi energi nasional.
Dengan komitmen bersama, industri migas Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk mengatasi penurunan alami dan menanggapi dinamika pasar global, sekaligus memastikan keamanan energi bagi seluruh rakyat Indonesia.









