GemaWarta – 20 Juni 2026 | Pemerintah Guinea Ekuatorial baru-baru ini mengundurkan diri secara massal setelah dinilai gagal memenuhi target kinerja yang ditetapkan. Pengunduran diri tersebut diumumkan Wakil Presiden Teodoro Nguema Obiang Mangue, yang menyebut capaian pemerintahan hanya mendekati 10 persen dari target.
Dalam pernyataannya, Obiang mengatakan Perdana Menteri Manuel Osa Nsue Nsua telah mengajukan pengunduran diri seluruh anggota kabinet kepada Presiden Teodoro Obiang Nguema Mbasogo. ‘Pengunduran diri ini sejalan dengan prinsip bahwa tanggung jawab dalam manajemen publik harus disertai dengan hasil,’ tulis Obiang.
Partai Demokratik Guinea Ekuatorial (PDGE) yang berkuasa menyatakan Presiden Teodoro Obiang tidak puas terhadap kinerja pemerintahan yang dibentuk pada 2024 tersebut. Menurut partai, pemerintahan baru akan segera dibentuk.
Sementara itu, di Zimbabwe, Presiden Emmerson Mnangagwa berusaha memperpanjang masa jabatannya melalui amendemen konstitusi. Ia berencana memperpanjang masa jabatannya dari lima tahun menjadi tujuh tahun.
Dalam konteks yang lebih luas, beberapa negara di Afrika juga mengalami fenomena serupa, di mana para pemimpin yang sudah berusia lanjut masih mempertahankan kekuasaan mereka. Contohnya, Presiden Cameroon Paul Biya yang berusia 93 tahun dan sudah menjabat sejak 1982.
Kesimpulan dari peristiwa ini adalah bahwa Guinea Ekuatorial dan Zimbabwe sedang mengalami perubahan politik yang signifikan. Pemerintah Guinea Ekuatorial mundur karena gagal memenuhi target kinerja, sementara Presiden Zimbabwe berusaha memperpanjang masa jabatannya melalui amendemen konstitusi.









