Ekonomi

BI Rate Tetap 5,75%, Ini Dampaknya ke Investor dan Pasar Modal

×

BI Rate Tetap 5,75%, Ini Dampaknya ke Investor dan Pasar Modal

Share this article
BI Rate Tetap 5,75%, Ini Dampaknya ke Investor dan Pasar Modal
BI Rate Tetap 5,75%, Ini Dampaknya ke Investor dan Pasar Modal

GemaWarta – 25 Juli 2026 | Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% setelah menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21-22 Juli 2026. Langkah BI itu dinilai sesuai harapan pelaku pasar. Lalu apa dampaknya untuk investor?

Pengamat pasar modal Hendra Wardana menuturkan, BI Rate tetap di level 5,75% adalah langkah yang sesuai dengan harapan pasar. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi, mulai dari arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia, tensi geopolitik, hingga fluktuasi nilai tukar, Hendra menilai, BI memilih mengedepankan stabilitas dibandingkan mengambil risiko dengan mengubah suku bunga terlalu cepat.

🔖 Baca juga:
Emiten Gelar Buyback Massal di Tengah Volatilitas Pasar: Penyebab, Contoh, dan Dampaknya bagi Investor

Di sisi lain, Hendra melihat inflasi domestik masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sehingga belum ada urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga. Selain itu, ia menilai, menjaga suku bunga tetap tinggi juga diperlukan untuk mempertahankan daya tarik aset keuangan Indonesia dan menjaga stabilitas rupiah.

Keputusan mempertahankan BI Rate di level 5,75% juga memberikan sinyal Bank Indonesia saat ini berada pada fase “wait and see”. Hal itu, menurut Hendra, bank sentral menilai kebijakan moneter yang ada sudah cukup untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pasar dapat mengartikan peluang kenaikan suku bunga lanjutan semakin kecil selama kondisi global tidak mengalami guncangan baru yang signifikan. Namun demikian, Hendra mengatakan, ruang penurunan suku bunga juga masih akan sangat bergantung sejumlah faktor. Hal itu antara lain perkembangan inflasi, pergerakan rupiah, serta arah kebijakan The Federal Reserve (the Fed) dalam beberapa bulan mendatang.

🔖 Baca juga:
Saham Salim Ivomas Pratama Melejit 12,7%: Bintang Baru di Langit IHSG 2026

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan keputusan tersebut menjadi momentum perbankan mempercepat penyaluran kredit sektor riil. Pemerintah memprioritaskan pertumbuhan ekonomi nasional karena likuiditas perbankan saat ini berada dalam kondisi aman.

Sementara itu, Bank Indonesia mencatat bahwa likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada Juni 2026. Pertumbuhannya mencapai sebesar 8,7 persen secara tahunan, atau menjadi Rp10.432,8 triliun.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,8 persen dan uang kuasi sebesar 6,9 persen.

🔖 Baca juga:
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS dan Ringgit Malaysia: Tren Terbaru dan Dampaknya

Perkembangan M2 pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. Penyaluran kredit tumbuh sebesar 12,1 persen, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan sebesar 10,8 persen pada Mei 2026.

Keputusan mempertahankan BI Rate di 5,75% sambil menyerap beban lindung nilai valas menciptakan dampak yang tidak merata bagi berbagai sektor emiten di pasar saham. Sektor perbankan sebagai bobot utama pergerakan IHSG menghadapi tekanan dilematis dari struktur biaya dana yang tinggi.

Kesimpulan, keputusan BI untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75% memiliki dampak yang luas pada investor dan pasar modal. Dengan mempertahankan suku bunga, BI berupaya menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, keputusan ini juga memiliki dampak pada sektor perbankan dan emiten di pasar saham.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *