GemaWarta – 25 Mei 2026 | Pertengahan Mei 2026 menjadi periode kelabu bagi perekonomian arus bawah di Indonesia. Ketika nilai tukar Rupiah terperosok dalam hingga menyentuh level psikologis baru di angka Rp17.668 per Dolar AS, dampaknya tidak hanya terasa di lantai bursa saham Jakarta, tetapi langsung menonjok keranjang belanja ibu rumah tangga dan biaya produksi industri kecil di pelosok daerah.
Fenomena pelemahan kurs ini menciptakan efek domino yang nyata di lapangan. Di Bojonegoro, Jawa Timur, data Dinas Perdagangan setempat menunjukkan kenaikan serentak pada hampir seluruh komoditas pangan utama. Harga daging ayam kampung melesat tajam hingga Rp79.375 per kilogram, sebuah lonjakan drastis sebesar 14,46 persen.
Sementara itu, analis Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (25/5/2026). “Untuk perdagangan Senin [25/5], rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS,” kata Lukman.
Di sisi lain, dengan uang US$ 1 juta, seseorang bisa membeli hunian mewah di Jakarta, seperti di kawasan Menteng atau Senopati. Namun, di luar negeri, uang sebanyak itu belum tentu mendapatkan hunian mewah. Bahkan, hunian yang didapat terbilang jauh dari kata megah dengan luas bangunan yang cenderung kecil.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengatakan uang US$ 1 juta bukan lagi angka ‘wah’ di pasar properti global. Di sejumlah kota besar, uang sebanyak itu cuma bisa membeli rumah premium yang luasnya 33 meter persegi, tak jauh beda dari luas rumah subsidi di Indonesia.
Menyikapi fenomena ini, masyarakat desa mulai merasakan dampak pelemahan Rupiah terhadap ekonomi nasional. Pedagang di Pasar Gede Solo mengeluhkan mahalnya harga plastik saat ini. “Pastinya ada pengaruh besar. Harga-harga ikut naik, apalagi harga dari distributor naik,” ujar Maryani, salah satu pedagang di Pasar Gede Solo.
Realitas di lapangan menunjukkan penurunan daya beli yang signifikan. Maryani menyebut nilai uang Rp50 ribu saat ini sangat jauh berbeda kekuatannya dibanding sebelumnya. “Dulu Rp 50 ribu dapat beras 1 kilo, beli sayur sama lauknya, minyak atau gula. Kalau sekarang belinya mintanya sedikit-dikit, bawang merah jadi beli 1 ons. Bahkan bumbu masak kemasan yang biasanya satu renteng sekarang hanya satu atau dua kemasan saja,” paparnya menggambarkan kondisi riil ekonomi warga.
Dalam beberapa hari terakhir, rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Pada pukul 10.40 WIB, rupiah melemah 0,07% atau 13 poin menuju level Rp17.730 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar juga melemah 0,21% ke posisi 99,03. Rupiah dibuka menguat 0,08% atau 14 poin menuju level Rp17.703 per dolar AS pukul 09.5 WIB.
Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap ketahanan eksternal Indonesia dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS. Selain faktor domestik, tekanan eksternal juga masih kuat seiring ketidakpastian geopolitik global yang belum mereda.
Pelaku pasar kini menanti perkembangan terbaru dari kawasan Timur Tengah, khususnya terkait respons Iran terhadap proposal yang diajukan Amerika Serikat. Iran disebut diharapkan memberikan tanggapan dalam waktu dekat, yang berpotensi menjadi sentimen penting bagi pergerakan pasar global awal pekan depan.
Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut dinilai dapat memicu penguatan dolar AS dan menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah. “Untuk perdagangan Senin [25/5], rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS,” kata Lukman.
Kesimpulan, pelemahan Rupiah terhadap dolar AS memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia, baik di level makro maupun mikro. Masyarakat desa mulai merasakan dampak pelemahan Rupiah terhadap ekonomi nasional, dan pedagang di Pasar Gede Solo mengeluhkan mahalnya harga plastik saat ini. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk memperkuat Rupiah dan meningkatkan daya beli masyarakat.











