GemaWarta – 20 April 2026 | Pasar energi global kembali berada di tengah gejolak tajam pada pertengahan April 2026. Dalam rentang tiga hari, harga minyak mentah dunia beralih dari penurunan signifikan menjadi lonjakan kuat, memicu kebijakan harga bahan bakar di Indonesia yang tampak kontradiktif.
Pada Jumat, 17 April 2026, Menteri Luar Negeri Iran mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar satu per lima minyak dunia. Pengumuman tersebut menurunkan sentimen pasar; indeks Brent turun lebih dari 9 persen menjadi US$90,38 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$84,00. Penurunan ini mencerminkan harapan pelaku pasar akan peningkatan pasokan setelah hambatan geopolitik teratasi.
Namun, kegembiraan itu bersifat sementara. Pada Senin, 20 April 2026, Iran menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons atas tuduhan pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat. Akibatnya, Brent melesat 6,76 persen menjadi US$96,49 per barel, dan WTI naik 7,79 persen menjadi US$90,38 per barel. Fluktuasi dua arah dalam hitungan hari menegaskan sensitivitas pasar minyak terhadap dinamika politik Timur Tengah.
Ketegangan ini dipicu oleh serangkaian insiden maritim: kapal kargo Iran disita oleh pasukan Amerika di Teluk Oman, sementara kapal tanker Iran menembaki kapal komersial di Selat Hormuz. Kedua negara saling menuduh melanggar gencatan senjata, memperburuk ketidakpastian logistik yang mengalir ke harga spot global.
Di Indonesia, dampaknya terasa berbeda. Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada 18 April 2026, meski harga Brent sempat turun. Harga Pertamax Turbo di Jakarta naik menjadi Rp19.400 per liter (naik Rp6.300), Dexlite menjadi Rp23.600 (naik Rp9.400), dan Pertamina Dex menjadi Rp23.900 (naik Rp9.400). Kenaikan ini menimbulkan pertanyaan mengapa harga domestik dapat meningkat saat pasar internasional menunjukkan tren penurunan.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Saleh Abdurrahman, menjelaskan bahwa penetapan BBM nonsubsidi mengacu pada formula yang mencakup harga dasar, margin, dan pajak. Harga dasar diturunkan dari Mean of Platts Singapore (MOPS), yang pada awal April berada di kisaran US$90 per barel. “MOPS sudah naik setelah konflik akhir Februari, sehingga penyesuaian harga BBM nonsubsidi diperlukan untuk menghindari beban pada badan usaha,” ujar Saleh dalam wawancara dengan Kompas.com.
Data harga menunjukkan korelasi langsung antara MOPS dan tarif BBM:
| Komoditas | Harga Sebelum | Harga Sekarang |
|---|---|---|
| Brent | US$95,00 | US$96,49 |
| WTI | US$84,00 | US$90,38 |
| Pertamax Turbo | Rp13.100/L | Rp19.400/L |
| Dexlite | Rp14.200/L | Rp23.600/L |
| Pertamina Dex | Rp14.500/L | Rp23.900/L |
Selain faktor MOPS, analis pasar seperti Saul Kavonic (MST Marquee) menyoroti peran sentimen media sosial dan pernyataan resmi yang berubah-ubah. “Pasar minyak berfluktuasi lebih dipengaruhi oleh unggahan pejabat daripada kondisi fisik di lapangan,” katanya, menekankan bahwa ketidakpastian geopolitik tetap menjadi penggerak utama.
Faktor-faktor kunci yang memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dapat diringkas sebagai berikut:
- Penutupan atau pembukaan Selat Hormuz
- Intervensi militer AS terhadap kapal Iran
- Perubahan MOPS yang menjadi acuan harga domestik
- Sentimen pasar yang dipicu oleh pernyataan pejabat
- Kebijakan subsidi dan margin BBM di Indonesia
Melihat ke depan, para pelaku industri energi memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi hingga ada kejelasan mengenai status gencatan senjata dan kebijakan blokade maritim. Jika Selat Hormuz tetap tertutup, tekanan pada pasokan global dapat menambah beban pada harga Brent dan WTI, yang pada gilirannya akan memaksa otoritas Indonesia meninjau kembali tarif BBM nonsubsidi untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan stabilitas industri energi.
Kesimpulannya, pergerakan harga minyak dunia pada minggu pertama April 2026 mencerminkan dinamika geopolitik yang cepat berubah, sementara kebijakan harga BBM di Indonesia mencerminkan respons regulator terhadap faktor eksternal yang terukur melalui MOPS. Pengawasan ketat terhadap perkembangan di Selat Hormuz dan dialog diplomatik antara AS dan Iran akan menjadi penentu utama stabilitas pasar energi global ke depan.











