Ekonomi

Harga Minyak Melonjak Tajam: Brent Pecahkan USD104/Barel, WTI Menembus USD100, dan Dampak Keluar UEA dari OPEC

×

Harga Minyak Melonjak Tajam: Brent Pecahkan USD104/Barel, WTI Menembus USD100, dan Dampak Keluar UEA dari OPEC

Share this article
Harga Minyak Melonjak Tajam: Brent Pecahkan USD104/Barel, WTI Menembus USD100, dan Dampak Keluar UEA dari OPEC
Harga Minyak Melonjak Tajam: Brent Pecahkan USD104/Barel, WTI Menembus USD100, dan Dampak Keluar UEA dari OPEC

GemaWarta – 29 April 2026 | Jakarta, 29 April 2026 – Pasar energi dunia mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan hari ini setelah serangkaian perkembangan geopolitik dan keputusan strategis menggerakkan harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa minggu terakhir. Kontrak berjangka Brent tercatat naik 2,5 persen menjadi USD104,18 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,9 persen dan menutup pada USD100,16 per barel.

Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi faktor yang saling memperkuat. Pertama, Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi mengumumkan niatnya untuk keluar dari Organisasi Negara‑Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan kelompok OPEC+ mulai 1 Mei 2026. Keputusan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan berkurangnya koordinasi produksi di antara produsen utama, sekaligus menambah ketidakpastian pasokan global.

🔖 Baca juga:
Purbaya Tolak Pinjaman IMF dan Bank Dunia, APBN Tetap Kuat dengan Cadangan $25 Miliar

Kedua, ketegangan di Selat Hormuz semakin intensif. Iran menutup kembali selat strategis tersebut sebagai respons terhadap blokade angkatan laut Amerika Serikat, memotong sekitar 13 juta barel minyak per hari – setara 13% pasokan dunia. Penutupan ini menghambat aliran minyak dari Teluk Persia ke pasar internasional, menambah tekanan pada harga.

Ketiga, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ketidakpuasan terhadap proposal Iran yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat pencabutan blokade AS. Ketidakpuasan tersebut memperpanjang kebuntuan diplomatik, membuat pelaku pasar mengantisipasi gangguan pasokan yang lebih lama.

Berikut rangkuman pergerakan harga utama:

  • Brent (Juni): USD104,18 per barel (+2,5%)
  • WTI (Juni): USD100,16 per barel (+3,9%)
  • Brent (sebelumnya 29/4): USD111,26 per barel
  • WTI (sebelumnya 29/4): USD99,93 per barel

Para analis menilai bahwa meski harga Brent sempat mencapai puncak USD111,26 pada awal pekan, penurunan kecil ke USD104,18 mencerminkan penyesuaian pasar terhadap ekspektasi produksi tambahan UEA yang diperkirakan dapat menambah 1–1,5 juta barel per hari bila kembali bergabung. Namun, dengan Selat Hormuz tetap tertutup, suplai tambahan tersebut sulit disalurkan ke jalur internasional, sehingga tekanan bullish tetap kuat.

🔖 Baca juga:
Terungkap! Berapa Gaji Manajer Koperasi Merah Putih? Simak Skema & Cara Daftar Lengkap

John Kilduff, mitra di Again Capital, mengingatkan bahwa dalam kondisi normal, keluarnya UEA dari OPEC akan menjadi sinyal bearish dan memicu aksi jual besar. “Namun, penutupan Selat Hormuz menutup jalur utama ekspor, sehingga pasar memperkirakan kelangkaan berkelanjutan dan harga terus menguat,” ujarnya.

Jorge Leon, analis di Rystad Energy, menambahkan bahwa gangguan pengiriman tanker Iran telah meningkatkan risiko operasional. Data pelacakan kapal menunjukkan enam tanker minyak Iran terpaksa berbalik arah akibat blokade, meski sebagian alur masih beroperasi dengan risiko tinggi.

Di sisi politik, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menilai tawaran Iran sebagai upaya geopolitik yang belum memenuhi standar internasional. “Iran berusaha membuka selat hanya bila mereka tetap mengendalikan jalur tersebut. Itu bukan membuka selat, melainkan mengatur akses dengan syarat yang tidak dapat kami terima,” kata Rubio.

Reaksi pasar berlanjut ke pasar komoditas regional. Bursa Komoditas Indonesia mencatat kenaikan kontrak minyak mentah domestik sebesar 3,2% pada sesi pagi, sementara perusahaan transportasi logistik memperkirakan biaya angkutan naik hingga 8% dalam tiga bulan ke depan.

🔖 Baca juga:
Dividen KOSPI Catat Rekor Historis 2025: Pengaruh Besar pada Pasar Saham Korea

Dengan prospek negosiasi damai antara AS dan Iran masih mandek, serta kemungkinan UEA menambah produksi secara independen, para pelaku pasar tetap waspada. Skenario terburuk mencakup kelanjutan penutupan Hormuz yang memperkecil suplai global dan memaksa harga minyak melampaui USD110 per barel lagi dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, kombinasi geopolitik, keputusan strategis OPEC, dan dinamika pasar energi menegaskan kembali volatilitas tinggi pada harga minyak dunia. Investor disarankan untuk memantau perkembangan diplomatik serta kebijakan produksi masing‑masing negara produsen utama guna mengelola risiko portofolio energi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *