GemaWarta – 10 Juni 2026 | Harga Pertamax telah melonjak menjadi Rp16.250 per liter, meningkat sebesar 32,11% dibandingkan dengan awal bulan sebelumnya yang berada di Rp12.300 per liter. Kenaikan ini berdampak pada berbagai sektor, terutama bagi pengemudi ojol yang sebagian besar masih mengandalkan bahan bakar penugasan atau subsidi.
Menurut Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, fluktuasi harga BBM nonsubsidi saat ini tidak berpengaruh besar pada operasional riil di lapangan. Hal ini karena sekitar 95% pengemudi ojol masih menggunakan BBM subsidi, sehingga biaya operasional mereka relatif stabil.
Meskipun demikian, Garda Indonesia mendesak pemerintah untuk segera memberikan relaksasi beban utang perbankan akibat kenaikan suku bunga serta melipatgandakan subsidi pembelian motor listrik guna mengamankan kelas ekonomi para mitra pengemudi.
Sementara itu, pemerintah sedang menyiapkan sejumlah opsi stimulus untuk meredam dampak kenaikan harga BBM Pertamax terhadap masyarakat. Pembahasan mengenai insentif sudah dilakukan antara pemerintah dan DPR, dengan fokus pada kelompok masyarakat yang paling terdampak.
Di sisi lain, kenaikan harga Pertamax juga berdampak pada saham-saham emiten sektor energi. Saham PT Akra Corporindo Tbk (AKRA) dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) melompat, didorong oleh kombinasi kenaikan harga minyak global, membaiknya selera risiko investor, serta faktor technical rebound.
Kenaikan harga minyak global ini dipicu oleh serangan Amerika Serikat terhadap Iran, yang menimbulkan ancaman baru terhadap gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara. Harga minyak Brent naik 0,6% menjadi US$92,04 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate naik 0,5% menjadi US$88,67 per barel.
Kesimpulan, kenaikan harga Pertamax memiliki dampak yang luas, tidak hanya terhadap pengemudi ojol tetapi juga terhadap saham-saham emiten sektor energi. Pemerintah perlu segera mengambil langkah-langkah untuk meredam dampak ini dan melindungi masyarakat yang paling terdampak.











