GemaWarta – 31 Mei 2026 | IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan menutup perdagangan Jumat (29/5/2026) di zona merah alias melemah tipis di tengah volatilitas pasar yang tinggi. Berdasarkan data RTI Business, IHSG ditutup turun 2,808 poin atau 0,05% ke level 6.127,381. Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat bergerak cukup agresif dengan menyentuh level tertinggi harian di 6.230,500 dan level terendah di 6.111,971. Aktivitas pasar berlangsung ramai dengan volume perdagangan mencapai 47,215 miliar saham, nilai transaksi Rp50,149 triliun, serta frekuensi transaksi menembus 2,37 juta kali. Secara keseluruhan, tekanan jual masih mendominasi pasar. Tercatat sebanyak 409 saham terkoreksi, sementara 271 saham menguat dan 137 saham bergerak stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat berada di level Rp10.752,476 triliun.
Saham-saham Grup Barito justru menjadi motor penggerak utama di jalur penguatan. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melesat 25% ke level Rp3.300. Kenaikan signifikan juga terjadi pada PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang naik 24,76% ke level Rp1.940, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang menguat 24,75% ke Rp630, serta PT Petrosea Tbk (PTRO) yang naik 24,87% menuju Rp4.670. Selain saham-saham Grup Barito, PT Krida Jaringan Nusantara Tbk (KJEN) menjadi top gainer utama dengan kenaikan 34,18% menuju level Rp212. Di sisi lain, kelompok saham yang mengalami tekanan dipimpin PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) yang merosot 12,86% menjadi Rp61. Pelemahan juga dialami PT Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk (RBMS) sebesar 8,57% ke Rp64, PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) turun 7,45% ke Rp87, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang melemah 6,05% menjadi Rp1.785.
Nilai Tukar Rupiah Kian Melemah Tekanan di pasar saham sejalan dengan pelemahan mata uang rupiah yang terus dibayangi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Berdasarkan data perdagangan, rupiah pada Jumat sore ditutup melemah 35 poin ke level Rp17.880 per USD dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.845 per USD. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh menguatnya indeks dolar AS di tengah kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat.











