GemaWarta – 20 Mei 2026 | Krisis energi global yang dipicu oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah telah berdampak langsung terhadap rantai pasok dan harga energi dunia. Indonesia, sebagai negara yang sangat tergantung pada energi fosil, harus segera mengambil langkah-langkah strategis untuk menghadapi krisis ini.
Menurut Prof. Iwa Garniwa, pakar energi dari Universitas Indonesia, keberlanjutan pasokan energi menjadi faktor yang sangat penting untuk dijaga. Ia menekankan bahwa negara yang tidak punya kontrak jangka panjang, infrastruktur regasifikasi yang fleksibel, dan cadangan strategis, akan kalah bersaing.
Iwa juga menyoroti pentingnya ketersediaan energi daripada harga dalam jangka pendek. Ia menjelaskan bahwa energi memang ‘oksigen’ ekonomi, dan tanpa listrik, tanpa gas untuk industri, pabrik berhenti, rantai pasok putus, inflasi meningkat, yang mana ini sangat tidak diinginkan oleh semua negara.
Di Indonesia, harga LPG industri telah meningkat sekitar 25 persen, sementara solar industri mengalami kenaikan jauh lebih tinggi, yakni sekitar 77 persen hingga 84 persen. Hal ini menunjukkan bahwa krisis energi global telah berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai bahwa negara-negara di Asia perlu memperkuat ketahanan kawasan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. AHY menyoroti berbagai tekanan global yang terjadi saat ini, mulai dari perang, gangguan rantai pasok, krisis energi, hingga perubahan iklim.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping telah menandatangani sekitar 40 dokumen kerja sama dalam pertemuan bilateral di Beijing. Mereka sepakat memperkuat ‘comprehensive partnership’ dan kerja sama strategis jangka panjang, serta memperpanjang Treaty of Good Neighbourliness and Friendly Cooperation.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melaporkan bahwa ketahanan stok BBM nasional masih di level aman. Per 18 Mei 2026, stok BBM jenis Pertalite tahan 16 hari atau sebanyak 1,37 juta kiloliter (kl), sementara Pertamax tahan 27,8 hari atau 561 ribu kl.
Krisis energi global ini menunjukkan bahwa Indonesia harus segera mengambil langkah-langkah strategis untuk menghadapi krisis ini. Dengan memperkuat ketahanan energi dan mengembangkan sumber energi alternatif, Indonesia dapat mengurangi ketergantungannya pada energi fosil dan meningkatkan ketahanan perekonomiannya.
Dalam menghadapi krisis energi global, Indonesia harus memprioritaskan penyelamatan pasokan domestik dan penyesuaian harga energi. Dengan demikian, Indonesia dapat menghadapi krisis energi global dengan lebih baik dan meningkatkan ketahanan perekonomiannya.
Sebagai kesimpulan, krisis energi global merupakan ancaman serius bagi Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia harus segera mengambil langkah-langkah strategis untuk menghadapi krisis ini, seperti memperkuat ketahanan energi, mengembangkan sumber energi alternatif, dan memprioritaskan penyelamatan pasokan domestik.











