Ekonomi

Rupiah Melemah: Mengapa Kondisi Ini Terjadi dan Bagaimana Menghadapinya?

×

Rupiah Melemah: Mengapa Kondisi Ini Terjadi dan Bagaimana Menghadapinya?

Share this article
Rupiah Melemah: Mengapa Kondisi Ini Terjadi dan Bagaimana Menghadapinya?
Rupiah Melemah: Mengapa Kondisi Ini Terjadi dan Bagaimana Menghadapinya?

GemaWarta – 24 Mei 2026 | Rupiah mengalami tekanan di tengah gejolak ekonomi global, penguatan dolar AS, hingga meningkatnya ketidakpastian pasar dunia. Namun, apakah kondisi ini benar-benar menandakan ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja? Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Fithra Faisal Hastiadi menjelaskan, ada beberapa faktor yang membuat rupiah melemah.

Pertama, kenaikan US Treasury yield yang kini mencapai 4,5 hingga 4,6 persen yang mendorong banyak pihak menjual obligasinya. "Tekanannya berdasarkan dari spread yield dari obligasi AS dengan yield obligasi di Indonesia. Akhirnya dari emerging markets, uangnya masuk lagi ke AS, dari Indonesia masuk lagi ke AS," kata dia.

🔖 Baca juga:
Suspensi BEI atas Lonjakan Spektakuler Saham WBSA: Harga Meroket 691% di Tengah Gejolak Rupiah dan Minyak

Fithra mengatakan, rupiah saat ini seharusnya berada di Rp16.700 per USD berdasarkan fundamentalnya. Namun karena ada tekanan tadi, rupiah melemah mencapai Rp17.600 per USD. Sementara jika hal ini bisa ditangani maka rupiah bisa menguat 225 basis poin.

Kedua, oil price. Ini kan lagi naik harganya, dan kebutuhan terhadap energi juga lagi meningkat sehingga impornya tinggi. Nah ini juga menghadirkan tekanan, itu nilainya (terhadap pelemahan rupiah) 180 (basis poin)," ujarnya.

Ekonom Wijayanto Samirin menilai sektor sumber daya alam (SDA) masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia. Karena itu, perubahan tata kelola ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) atau PT DSI dinilai perlu dihitung secara matang. Dia mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak menimbulkan dampak besar terhadap perekonomian nasional.

🔖 Baca juga:
Terbuka 30.000 Lowongan Manajer Koperasi Desa Merah Putih: Syarat, Batas Waktu, dan Dukungan BUMN

Menurut dia, ekspor komoditas SDA dan produk turunannya menyumbang sekitar 62 persen terhadap total ekspor Indonesia. "Lima komoditas tertinggi itu 40 persen bahkan sedikit lebih dari total ekspor. Jadi dari sisi dampak bagi GDP pertumbuhan luar biasa," kata dia.

Wijayanto mengatakan sektor SDA tidak hanya berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Sebab, komoditas tersebut menjadi sumber utama penerimaan devisa Indonesia. Karena itu, apabila aktivitas ekspor SDA terganggu, dampaknya dinilai bisa meluas ke berbagai sektor.

Menurutnya, kondisi tersebut harus dimanfaatkan dengan baik sebelum situasi memburuk. "Ada kesamaan antara apa yang kita lihat sekarang dan apa yang terjadi di masa lalu, yang kebetulan saya juga melihat, apa itu? Denial (penyangkalan) dan complacency (puas diri)," katanya.

🔖 Baca juga:
Dian Swastatika Sentosa Didepak FTSE Russell: Apa yang Terjadi?

Wijayanto menilai, salah satu masalah terbesar adalah ketika pemerintah merasa kondisi ekonomi masih baik-baik saja, padahal tekanan sudah mulai terlihat. Menurut dia, kondisi itu berbahaya karena bisa memicu lahirnya kebijakan yang justru memperburuk keadaan ekonomi.

Kesimpulan dari seluruh kondisi ini adalah bahwa pemerintah perlu waspada terhadap pelemahan rupiah dan belajar dari krisis 1998 supaya tekanan ekonomi tidak semakin dalam. Kebijakan stabilisasi kurs seperti kenaikan suku bunga dan penerbitan SRBI dinilai hanya meredam gejala sementara tanpa menyentuh akar masalah ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *