Kesehatan

Dirut RSHS Bandung Ungkap Kronologi Bayi Nyaris Tertukar, Klaim Penyelesaian Kekeluargaan Telah Selesai

×

Dirut RSHS Bandung Ungkap Kronologi Bayi Nyaris Tertukar, Klaim Penyelesaian Kekeluargaan Telah Selesai

Share this article
Dirut RSHS Bandung Ungkap Kronologi Bayi Nyaris Tertukar, Klaim Penyelesaian Kekeluargaan Telah Selesai
Dirut RSHS Bandung Ungkap Kronologi Bayi Nyaris Tertukar, Klaim Penyelesaian Kekeluargaan Telah Selesai

GemaWarta – 17 April 2026 | Bandung, 16 April 2026 – Direktur Utama Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr. Rachim Dinata Marsidi, SpB, pada hari Kamis mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan insiden bayi nyaris tertukar yang melibatkan seorang ibu bernama Nina Saleha. Menurut pernyataan resmi, insiden terjadi pada 8 April 2026 ketika bayi Nina, yang dirawat di Neonatal High Care Unit (NHCU), secara keliru diserahkan kepada orang lain oleh seorang perawat saat proses pemulangan.

Dr. Rachim menjelaskan bahwa bayi Nina pertama kali dirawat pada 5 April 2026 setelah menunjukkan gejala ikterus. Setelah evaluasi medis, bayi dipindahkan ke IGD dan kemudian dirawat intensif di NICU selama tiga hari. Pada 8 April 2026, kondisi bayi menunjukkan perbaikan signifikan, sehingga dokter merekomendasikan pemulangan.

🔖 Baca juga:
Steven Wongso Disentil Balik: Edukasi Gula Martabak vs. Bahaya Steroid Anabolik

Pada hari pemulangan, terdapat dua bayi yang dijadwalkan keluar pada waktu bersamaan. Prosedur identifikasi ulang dilakukan, namun terjadi kegagalan komunikasi di antara staf. Perawat yang bertugas secara tidak sengaja menyerahkan bayi Nina kepada orang tua bayi lain yang menunggu di ruang tunggu. Pada saat itu, perawat juga mengakui bahwa gelang identitas bayi sempat terlepas dan dipindahkan, menambah kebingungan.

Setelah kejadian, RSHS segera menghubungi Nina Saleha, memberikan edukasi kembali tentang identitas bayinya, dan meminta maaf secara resmi. Tim manajemen rumah sakit membentuk tim investigasi internal yang melaporkan temuan pada 9 April 2026. Pada pertemuan tersebut, Nina mengungkapkan rasa terkejut dan trauma, namun menyatakan terima kasih atas penjelasan dan permintaan maaf yang diberikan oleh tim RSHS.

Dr. Rachim menegaskan bahwa prosedur keamanan telah ditinjau ulang, termasuk penambahan lapisan verifikasi sebelum penyerahan bayi. “Kami telah mengimplementasikan dua faktor verifikasi berupa konfirmasi lisan antara perawat dan orang tua, serta penggunaan barcode yang terhubung dengan sistem rekam medis,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa perawat yang terlibat telah diberikan sanksi administratif dan diwajibkan mengikuti pelatihan ulang tentang prosedur identifikasi pasien neonatus.

🔖 Baca juga:
Bayi 1,5 Tahun Mengalami Hipotermia di Gunung Ungaran, Dokter IDAI Ungkap Risiko dan Tindakan Darurat

Meskipun pihak rumah sakit menyatakan bahwa masalah telah diselesaikan secara kekeluargaan, Nina Saleha sebelumnya mengajukan somasi terkait kelalaian yang menimbulkan stres berat. Namun, dalam pernyataan terbaru, Dr. Rachim tidak memberikan komentar detail mengenai surat somasi tersebut, melainkan menekankan bahwa tidak ada unsur praktik ilegal dalam kasus ini.

Kasus ini memicu gelombang keprihatinan publik, terutama setelah munculnya video di platform TikTok yang memperlihatkan keluhan Nina terhadap layanan rumah sakit. Beberapa pengguna media sosial menyebutkan adanya dugaan kasus serupa di masa lalu, menambah tekanan pada manajemen RSHS untuk meningkatkan standar keamanan.

Sejumlah ahli kesehatan anak menyoroti pentingnya sistem identifikasi ganda dalam unit perawatan intensif neonatus. “Kejadian seperti ini mengingatkan kita bahwa teknologi saja tidak cukup; budaya keselamatan harus ditanamkan pada setiap level staf,” ujar Dr. Anita Sari, pakar neonatologi di Universitas Padjadjaran.

🔖 Baca juga:
Ancaman Kanker Kolorektal Meningkat, Kenali Gejalanya dan Pentingnya Deteksi Dini dengan Tes FIT

Hingga saat ini, tidak ada laporan resmi mengenai bayi lain yang mengalami kehilangan atau tertukar di RSHS. Pihak rumah sakit berkomitmen untuk terus memantau proses perbaikan dan mengundang audit eksternal guna memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan pasien.

Dengan langkah-langkah perbaikan yang telah diambil, RSHS berharap dapat memulihkan kepercayaan publik dan memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali. Kasus ini juga menjadi pelajaran bagi rumah sakit lain dalam memperkuat prosedur penyerahan pasien neonatus, terutama di unit-unit dengan volume tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *