Religi

Puasa Arafah dan Qadha Ramadhan: Apakah Boleh Digabungkan?

×

Puasa Arafah dan Qadha Ramadhan: Apakah Boleh Digabungkan?

Share this article
Puasa Arafah dan Qadha Ramadhan: Apakah Boleh Digabungkan?
Puasa Arafah dan Qadha Ramadhan: Apakah Boleh Digabungkan?

GemaWarta – 25 Mei 2026 | Puasa Arafah merupakan salah satu puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah atau sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Pada tahun ini, puasa Arafah 1447 H jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026 dan menjadi salah satu amalan yang dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Puasa sunnah ini memiliki banyak keutamaan besar. Salah satu keutamaannya adalah menjadi sebab dihapuskannya dosa selama dua tahun, yakni setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang. Dikutip dari buku Ternyata Shalat dan Puasa Sunah Dapat Mempercepat Kesuksesan oleh Ceceng Salamudin, keutamaan tersebut dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang artinya: "Puasa hari Arafah diperhitungkan oleh Allah untuk menghapus dosa dan kesalahan orang yang berpuasa setahun sebelum dan sesudahnya." (HR Muslim)

🔖 Baca juga:
Mengenal Magrib dan Idul Adha: Informasi Terkini 2026

Dalam pelaksanaannya, tidak sedikit umat Islam yang ingin menggabungkan puasa Arafah dengan puasa Qadha Ramadan. Hal ini biasanya dilakukan oleh muslim yang masih memiliki utang puasa Ramadan. Namun, apakah puasa Arafah boleh digabung dengan puasa Qadha Ramadan? Bagaimana hukumnya menurut ulama dan seperti apa bacaan niat puasa Arafah sekaligus Qadha Ramadan dalam tulisan Arab, Latin, dan artinya?

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hukum menggabungkan puasa Qadha dengan puasa sunnah, termasuk puasa Arafah. Sebagian ulama membolehkan penggabungan niat, sementara sebagian lainnya menganjurkan agar kedua puasa dilakukan secara terpisah. Dilansir dari laman NU Online, persoalan penggabungan puasa Qadha dan puasa Arafah memang menjadi salah satu pertanyaan yang sering diajukan masyarakat.

🔖 Baca juga:
Jakarta Islamic Index: Masjid Al Ikhlas Sebar Daging Kurban ke 2.000 Orang

Menanggapi hal tersebut, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Ustadz Alhafiz Kurniawan, menjelaskan bahwa hukum menggabungkan kedua puasa tersebut adalah boleh dan sah. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, menggabungkan niat puasa Tarwiyah dan qadha Ramadhan boleh menurut sebagian ulama.

Menyadur dari laman Nahdlatul Ulama, apabila seseorang melaksanakan puasa qadha Ramadhan pada hari-hari yang dianjurkan berpuasa, maka pahala puasa sunnah tersebut tetap didapatkan. Pandangan tersebut sebagaimana fatwa yang disampaikan oleh Imam Al-Barizi (wafat 738 H), sebagaimana dinukil oleh Syekh Abu Bakr Syatha Ad-Dimyathi (wafat 1310 H) berikut ini: "Berpuasa pada hari-hari yang dianjurkan secara otomatis akan memperoleh keutamaan khusus pada hari-hari tersebut. Bahkan jika seseorang berniat untuk berpuasa dengan niat lainnya, pahala dari keduanya tetap bisa didapatkan.

🔖 Baca juga:
Hilal dan Penentuan Idul Adha: Bagaimana Prosesnya?

Adapun niat puasa Arafah dan niat qadha puasa adalah sebagai berikut: نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى. Nawaitu shauma 'arafata sunnatan lillaahi ta'aalaa. Artinya : "Saya niat berpuasa sunnah Arafah karena Allah Ta'ala." نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhaai fardhi ramadhaana lillahi ta'aalaa. Artinya: "Aku niat puasa esok hari sebagai ganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta'ala."

Kesimpulan, puasa Arafah yang dijalankan bersamaan dengan qadha Ramadhan tetap sah, meskipun lebih utama mendahulukan puasa wajib sebelum melaksanakan puasa sunnah. Dengan memahami ketentuannya, ibadah yang dijalankan diharapkan tetap sah sekaligus memperoleh pahala dan keutamaan yang maksimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *