GemaWarta – 05 Mei 2026 | Mayon Volcano kembali mengamuk pada akhir pekan lalu, menimbulkan letusan dahsyat yang melontarkan awan abu tebal melintasi wilayah Albay, Filipina. Letusan tersebut dipicu oleh runtuhnya lava dome pada Sabtu, menyebabkan abu vulkanik menutupi langit dan menuruni lereng-lereng sekitar, memaksa ribuan warga mengungsi demi menghindari bahaya kesehatan dan kerusakan properti.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Sipil (Office of Civil Defense), sebanyak 30.522 keluarga atau kira-kira 102.406 orang tersebar di 87 barangay terdampak oleh abu Mayon. Lebih dari 6.000 rumah di wilayah Guinobatan dan Camalig mengalami penumpukan abu dengan ketebalan mencapai satu hingga dua inci, bahkan ada laporan bahwa sebagian atap rumah terbalut abu setebal dua kaki. Secara keseluruhan, 28.000 keluarga di 44 barangay melaporkan kerusakan signifikan pada hunian mereka.
Gubernur Albay, Noel Rosal, menegaskan bahwa dampak letusan ini meluas tidak hanya pada sektor perumahan, melainkan juga pada pertanian dan peternakan. “Lebih dari enam ribu rumah telah terpapar abu, dan kami telah menyiapkan masker N95 untuk melindungi penduduk, terutama anak-anak,” ujarnya dalam sebuah wawancara. Sementara itu, Walikota Guinobatan, Ann Gemma Ongjoco, mengumumkan melalui akun Facebook resmi bahwa 1.438 keluarga atau sekitar 5.440 orang kini menempati pusat-pusat evakuasi sementara, dengan total evakuasi sejak Januari mencapai 1.238 keluarga.
Departemen Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPWH) yang dipimpin oleh Sekretaris Vince Dizon turut turun ke lapangan untuk memantau operasi pembersihan dan penyiraman abu. Timnya bekerja sama dengan PHIVOLCS (Philippine Institute of Volcanology and Seismology) untuk memastikan zona bahaya permanen tetap terjaga, dan mempertimbangkan perluasan radius zona bahaya dari enam menjadi tujuh kilometer, yang berpotensi menambah sekitar 10.000 keluarga ke dalam area evakuasi.
Dampak kesehatan menjadi prioritas utama. Pemerintah provinsi mewajibkan penggunaan masker N95 bagi seluruh penduduk, mengingat abu vulkanik mengandung partikel halus yang dapat menyebabkan iritasi pernapasan dan masalah mata. Hingga kini, tidak ada laporan korban luka serius, berkat kesiapsiagaan dan edukasi publik yang intensif. Namun, kerugian pada sektor agrikultur dan peternakan mulai terlihat; enam ekor ternak, termasuk kerbau, dilaporkan mati terperangkap oleh lapisan abu dan lava.
Upaya bantuan terus digalakkan. Presiden Ferdinand Marcos Jr. bersama Kementerian Sosial (DSWD) telah menyalurkan paket sembako dan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi. Selain itu, pihak berwenang melakukan pembersihan jalan, menghilangkan lapisan abu tebal, serta memfasilitasi pemulihan lahan pertanian yang terkontaminasi. Meskipun tantangan masih besar, semangat gotong‑royong warga Albay menunjukkan ketangguhan daerah dalam menghadapi bencana alam.
Secara keseluruhan, letusan Mayon Volcano kali ini menegaskan kembali pentingnya sistem peringatan dini, koordinasi lintas lembaga, dan kesiapsiagaan masyarakat. Dengan ribuan rumah yang tertutup abu, puluhan ribu orang mengungsi, serta kerusakan pada sektor pertanian, dampak ekonomi dan sosial diperkirakan akan dirasakan selama berbulan‑bulan ke depan. Pemerintah berjanji terus memantau aktivitas gunung berapi, memperluas zona evakuasi bila diperlukan, dan memastikan bantuan sampai kepada mereka yang paling membutuhkan.









