GemaWarta – 20 April 2026 | Pada hari Selasa, 16 April 2026, aparat kepolisian setempat mengumumkan hasil penyelidikan awal atas insiden tragis dua anak muda yang hanyut di Sungai Bulango, Gorontalo. Kedua korban, yang masing-masing berusia 12 dan 13 tahun, ditemukan tewas setelah arus deras membawanya jauh dari titik awal mereka bermain di tepi sungai. Penyelidikan mengungkap rangkaian fakta yang menimbulkan kecurigaan di kalangan keluarga, terutama mengenai aktivitas terakhir anak-anak tersebut.
Menurut keterangan saksi mata, kedua anak, yang dikenal dengan nama Aliandra Elmira Ramadhani (12) dan temannya yang belum diungkap namanya, sedang mengerjakan kegiatan ibadah kecil di pinggir sungai. Aliandra dikenal sebagai remaja yang rajin salat dan mengaji, serta sering menghabiskan waktu luangnya di sekitar aliran air sebagai tempat bersantai setelah sekolah. Pada pagi itu, mereka bersama beberapa teman lain memutuskan untuk bermain air sambil melaksanakan shalat Dzuhur di sebuah spot yang biasanya dianggap aman.
Pukul 09.45 WIB, salah satu saksi melaporkan terdengar suara teriakan keras ketika arus tiba-tiba meningkat akibat derasnya curah hujan di hulu Sungai Bulango. Saksi mengatakan bahwa anak-anak tampak panik ketika air mulai naik cepat, dan upaya menenangkan mereka tidak berhasil. Salah satu pemuda lokal yang berada di lokasi berusaha membantu dengan mengaitkan tali pada sebuah batu besar, namun arus yang kuat membuat upaya penyelamatan terhambat.
Tim SAR yang dikerahkan oleh Polres Gorontalo tiba di lokasi sekitar pukul 10.20 WIB. Mereka menemukan jejak kaki basah dan beberapa barang pribadi, termasuk tas kecil berisi Al-Qur’an milik Aliandra. Pencarian intensif selama lebih dari satu jam berhasil menemukan kedua korban di daerah hulu sungai, tepatnya di sebuah bendungan kecil yang terbentuk alami. Badan keduanya tergeletak di antara batu-batu, menunjukkan bahwa mereka telah terhanyut selama beberapa menit sebelum ditemukan.
Polisi setempat, melalui Kasi Humas, menegaskan bahwa penyebab utama kecelakaan adalah peningkatan debit air yang tidak terduga. Namun, dalam proses penyelidikan, muncul indikasi bahwa keluarga korban sempat meragukan keterangan para saksi. Menurut anggota keluarga, ada percakapan sebelum kejadian yang menyiratkan bahwa anak-anak mungkin dipaksa untuk menurunkan diri ke dalam sungai sebagai bentuk ‘ujian keberanian’ oleh sekelompok remaja lain. Keluarga juga mengklaim bahwa orangtua korban tidak diberi penjelasan lengkap mengenai keberadaan mereka sebelum insiden.
- 09.30 WIB – Anak-anak berkumpul di tepi Sungai Bulango, mempersiapkan shalat Dzuhur.
- 09.45 WIB – Arus sungai tiba-tiba naik, menimbulkan kepanikan.
- 10.00 WIB – Upaya penyelamatan oleh warga setempat gagal karena kekuatan arus.
- 10.20 WIB – Tim SAR tiba, memulai pencarian intensif.
- 11.05 WIB – Kedua korban ditemukan tewas di bendungan kecil.
Selain aspek teknis, penyelidikan juga menyoroti peran pengawasan orangtua. Sejumlah tetangga melaporkan bahwa anak-anak sering bermain di sungai tanpa pengawasan langsung, mengingat kebiasaan mereka yang sudah lama terbiasa beraktivitas di lingkungan alam. Polisi menegaskan pentingnya peran orangtua dalam mengawasi anak, terutama di wilayah yang rawan banjir dan arus deras.
Dalam pernyataan resmi, Kapolres Gorontalo menekankan bahwa kasus ini menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas di wilayah perairan. Ia juga meminta agar warga melaporkan setiap perilaku mencurigakan yang dapat menimbulkan risiko bagi anak-anak. Sementara itu, pihak keluarga menolak melakukan otopsi pada kedua korban, mengingat kepercayaan agama mereka yang melarang intervensi medis setelah meninggal.
Kasus 2 bocah hanyut ini menimbulkan perdebatan luas di media sosial, dengan banyak netizen menyoroti pentingnya edukasi keselamatan air bagi generasi muda. Beberapa organisasi non‑pemerintah telah mengajukan usulan program pelatihan berenang dan pengetahuan tentang bahaya arus bagi sekolah-sekolah di Gorontalo. Pemerintah daerah juga dikabarkan sedang menyusun regulasi baru yang mengatur zona larangan bermain di sungai pada musim hujan.
Sejauh ini, penyelidikan masih berlangsung. Tim forensik akan melakukan analisis lebih lanjut terkait jejak digital dan rekaman CCTV di sekitar lokasi. Keluarga korban berharap agar penyelidikan dapat mengungkap seluruh fakta, termasuk potensi adanya unsur provokasi atau tekanan dari pihak luar yang memicu tragedi ini.
Tragedi ini menambah daftar kasus kecelakaan air yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, menegaskan perlunya kebijakan preventif yang lebih kuat dan peran aktif masyarakat dalam menjaga keselamatan anak di lingkungan alam.











