GemaWarta – 06 Mei 2026 | Pasar modal Indonesia kembali berdebar ketika spekulasi mengenai dampak Perpres 8% menimpa GOTO (GoTo Group) semakin menguat. Kebijakan pemerintah yang menurunkan batas maksimum kepemilikan saham asing menjadi 8% di sektor tertentu memicu ketakutan akan penurunan nilai saham GOTO, yang selama ini menjadi salah satu saham favorit investor ritel dan institusi.
Di tengah gejolak tersebut, muncul kabar bahwa perusahaan investasi Danantara berencana melakukan akuisisi saham GOTO secara bertahap. Langkah ini dianggap sebagai upaya menambah kepemilikan pada perusahaan teknologi yang mengelola layanan e‑commerce, ride‑hailing, dan pembayaran digital. Danantara menyatakan niatnya untuk meningkatkan kepemilikan secara bertahap, menandakan kepercayaan jangka panjang terhadap prospek GOTO meski berada di bawah tekanan regulasi.
Menurut data yang dihimpun, GOTO saat ini memiliki struktur kepemilikan yang cukup beragam. Sebagian besar saham dikuasai oleh pendiri dan manajemen, sementara institusi keuangan domestik dan asing menempati porsi yang signifikan. Penurunan batas kepemilikan asing menjadi 8% dapat memaksa investor asing untuk menyesuaikan portofolio, berpotensi menurunkan likuiditas saham dan menekan harga secara negatif.
| Komponen | Persentase |
|---|---|
| Pendiri & Manajemen | 30% |
| Institusi Domestik | 45% |
| Investasi Asing | 25% |
Jika batas 8% diterapkan pada seluruh kepemilikan asing, sebagian besar saham institusi asing harus dijual atau dialihkan, yang dapat menciptakan tekanan jual massal. Analis pasar menilai bahwa skenario terburuk dapat mengakibatkan penurunan nilai pasar GOTO hingga 20% dalam jangka pendek.
Namun, tidak semua pandangan bersifat pesimis. Danantara, yang dikenal aktif di pasar modal dengan strategi investasi jangka panjang, melihat peluang undervalued pada GOTO. Rencana pembelian bertahap ini diharapkan dapat menstabilkan harga saham sekaligus memberi sinyal positif kepada investor lain bahwa GOTO masih memiliki fundamental kuat.
Fundamental GOTO memang menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang konsisten selama beberapa tahun terakhir. Layanan e‑commerce Tokopedia dan layanan keuangan GoPay terus memperluas basis pengguna, sementara platform ride‑hailing Gojek memperkuat ekosistem layanan on‑demand. Pendapatan gabungan ketiga unit bisnis ini mencatat kenaikan rata‑rata tahunan sebesar 15%.
Di sisi lain, regulasi baru juga membawa peluang. Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan melindungi kepentingan nasional dan mendorong pengembangan industri dalam negeri. Bagi perusahaan lokal seperti GOTO, hal ini dapat membuka pintu bagi dukungan kebijakan fiskal, insentif pajak, dan kemudahan regulasi untuk inovasi digital.
Investor ritel juga menjadi aktor penting dalam dinamika ini. Banyak yang melihat penurunan harga saham sebagai kesempatan beli murah. Platform investasi daring melaporkan lonjakan volume perdagangan GOTO selama minggu terakhir, mengindikasikan minat beli yang signifikan meski risiko tetap tinggi.
Secara keseluruhan, prospek GOTO di bawah rezim Perpres 8% menampilkan kombinasi antara ancaman dan peluang. Risiko utama tetap pada potensi penurunan nilai saham akibat penyesuaian kepemilikan asing, namun strategi investasi Danantara serta dukungan regulasi domestik dapat menjadi penyeimbang. Bagi para pemangku kepentingan, kunci utama adalah memantau kebijakan pemerintah secara real‑time dan menyesuaikan strategi investasi sesuai dengan dinamika pasar yang terus berubah.
Kesimpulannya, GOTO berada pada persimpangan kritis antara regulasi yang lebih ketat dan peluang pertumbuhan di sektor digital. Pengelolaan risiko yang tepat, dukungan institusi keuangan lokal, serta kepercayaan investor jangka panjang akan menentukan apakah GOTO mampu melewati babak belur ini dan kembali ke jalur pertumbuhan yang stabil.











