GemaWarta – 07 Mei 2026 | Teheran menolak keras tudingan bahwa Iran telah menyalurkan uranium ke luar negeri. Juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menegaskan bahwa fokus utama Tehran saat ini adalah menghentikan permusuhan yang terus berkecamuk sejak awal Mei 2026, bukan memfasilitasi proliferasi bahan nuklir.
Penolakan tersebut muncul bersamaan dengan serangkaian pernyataan yang dikeluarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengklaim Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir. Trump menyatakan, “Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Mereka telah menyetujuinya,” dan menambahkan bahwa Amerika hampir mencapai kesepakatan yang mencakup penghentian sementara pengayaan uranium serta pelepasan dana yang dibekukan.
Meski demikian, Tehran menolak mengakui adanya “kesepakatan” semacam itu. Dalam pernyataannya, Rezaei menegaskan bahwa Iran tetap berpegang pada haknya untuk mengembangkan energi nuklir damai, sementara menolak setiap tuduhan transfer bahan nuklir ke negara lain. Ia menambahkan bahwa upaya diplomatik yang sedang berlangsung lebih diarahkan pada pembicaraan gencatan senjata, pembukaan Selat Hormuz, dan pencabutan sanksi ekonomi yang menekan perekonomian Iran.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terus memanas setelah operasi militer “Epic Fury” yang dilancarkan pada awal Mei. Operasi tersebut menargetkan infrastruktur militer Iran, sementara Iran membalas dengan serangan rudal ke Uni Emirat Arab sebagai respons terhadap “Project Freedom” – inisiatif Trump untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Serangan tersebut menambah kerumitan situasi, namun tidak ada indikasi bahwa uranium Iran terlibat dalam aksi tersebut.
Para pengamat menilai bahwa kemampuan militer Iran kini telah berkurang drastis setelah lebih dari 13.000 target militer dibombardir. Kondisi ini memaksa Tehran mengutamakan diplomasi sebagai alat bertahan hidup. Penolakan terhadap tuduhan transfer uranium dapat dilihat sebagai upaya menjaga legitimasi internasional sekaligus menekan pihak Amerika untuk mengakhiri blokade ekonomi.
Sejumlah pihak internasional, termasuk Uni Eropa dan PBB, menyerukan dialog yang konstruktif dan menolak spekulasi yang dapat memperburuk konflik. Sementara itu, Amerika Serikat tetap menuntut konfirmasi tertulis mengenai komitmen Iran untuk menghentikan semua program pengayaan uranium, meski belum ada dokumen yang dipublikasikan.
Kesimpulannya, pernyataan tegas Iran yang membantah transfer uranium dan menegaskan fokus pada penghentian permusuhan mencerminkan perubahan strategi Tehran di tengah tekanan militer dan ekonomi. Negosiasi yang masih berjalan menuntut kompromi yang realistis, dan keberhasilan atau kegagalan proses ini akan menentukan arah hubungan Iran‑AS serta stabilitas kawasan Teluk dalam jangka panjang.











