GemaWarta – 18 Mei 2026 | Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terperosok ke kisaran Rp17.648 hingga Rp17.670 per dolar AS di pasar spot pada perdagangan Senin siang, 18 Mei 2026. Ini merupakan rekor pelemahan terdalam sepanjang sejarah Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa pelemahan dolar tidak berdampak langsung bagi masyarakat desa karena transaksi menggunakan mata uang rupiah. Namun, pernyataan tersebut menuai kritik karena kenaikan dolar tetap memicu inflasi dan meningkatkan biaya produksi barang impor domestik.
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah (IDR) kembali menjadi sorotan utama masyarakat Indonesia. Per hari ini, Senin 18 Mei 2026, 1 USD setara dengan sekitar Rp17.500 hingga Rp17.600.
Menurut data dari berbagai sumber, kurs tengah berada di kisaran Rp17.501 hingga Rp17.622 per dolar. Di pasar spot, nilai ini mencerminkan tekanan global terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah, akibat suku bunga Fed yang masih tinggi dan ketidakpastian geopolitik.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang bergantung pada barang impor, angka ini bukan sekadar statistik—melainkan realitas yang memengaruhi harga sehari-hari.
Penggunaan kripto di Amerika Latin melonjak 200%, dengan Oobit memperluas layanannya ke Kolombia. Sementara itu, harga kripto hari ini bergerak bervariasi, dengan mayoritas aset digital papan atas masih berada di zona hijau.
Kapitalisasi pasar kripto global masih didominasi Bitcoin dengan nilai mencapai USD 1,57 triliun. Sementara Ethereum mempertahankan posisi kedua dengan market cap USD 264,49 miliar, diikuti stablecoin USDT sebesar USD 189,76 miliar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap bertumbuh kuat, meskipun tekanan luar biasa pada mata uang Garuda ini dipicu oleh sentimen eksternal berupa lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, kenaikan harga minyak dunia, serta ketegangan geopolitik global yang memicu aliran modal keluar (capital outflow) besar-besaran dari pasar berkembang.
Kesimpulan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada barang impor. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi tekanan ini dan mempertahankan stabilitas ekonomi nasional.











