GemaWarta – 10 Juni 2026 | Harga emas Antam hari ini tercatat mengalami penurunan sebesar Rp 20.000 menjadi Rp 2.713.000 per gram. Sementara itu, harga emas di pasar spot juga melemah 0,7% menjadi US$ 4.298,75 per ons. Penurunan harga emas ini terjadi seiring ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih berpeluang terjadi tahun ini.
Investor saat ini cenderung mengambil sikap hati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar. Aksi jual yang melanda pasar keuangan global juga menjadi salah satu penyebab penurunan harga emas. Selain itu, data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan juga dinilai akan menjadi petunjuk penting bagi pasar dalam memperkirakan langkah The Fed selanjutnya terkait suku bunga.
Di sisi lain, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Rabu (10/6). Salah satu agenda yang paling dinantikan investor yakni penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2025, termasuk keputusan pembagian dividen. Antam membukukan laba bersih sebesar Rp 7,2 triliun pada tahun buku 2025, melonjak 97,8% dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya.
Investasi emas digital juga menjadi populer belakangan ini. Namun, investor perlu berhati-hati dan memahami risiko yang terkait dengan investasi ini. Investasi emas digital dapat menjadi pilihan yang tepat bagi mereka yang ingin diversifikasi aset, tetapi perlu melakukan analisis yang mendalam sebelum membuat keputusan.
Dalam beberapa hari terakhir, harga emas di pasar domestik juga mengalami fluktuasi. Harga emas Antam di Sahabat Pegadaian turun Rp10.000 menjadi Rp2.843.000 per gram pada Rabu, 10 Juni 2026. Emas cetakan UBS dan Galeri24 tetap stabil dengan harga masing-masing Rp2.757.000 dan Rp2.734.000 per gram.
Kesimpulan, harga emas Antam dan emas di pasar spot mengalami penurunan seiring ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Investasi emas digital juga menjadi populer, tetapi investor perlu berhati-hati dan memahami risiko yang terkait. Antam membukukan laba bersih sebesar Rp 7,2 triliun pada tahun buku 2025 dan menggelar RUPST untuk menentukan penggunaan laba bersih dan pembagian dividen.











