Ekonomi

Pasar Negara Berkembang: Tantangan dan Peluang di Era Digital

×

Pasar Negara Berkembang: Tantangan dan Peluang di Era Digital

Share this article
Pasar Negara Berkembang: Tantangan dan Peluang di Era Digital
Pasar Negara Berkembang: Tantangan dan Peluang di Era Digital

GemaWarta – 09 Juni 2026 | Pasar negara berkembang saat ini menjadi sorotan dunia karena potensi pertumbuhan yang besar. Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang, telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu sektor yang menonjol adalah industri nikel, di mana Indonesia telah menjadi pemain utama dalam rantai pasok energi bersih global.

Investasi besar telah mengalir ke sektor pengolahan nikel, baterai kendaraan listrik, hingga manufaktur kendaraan listrik. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa dominasi tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan industri manufaktur berteknologi tinggi di dalam negeri. Laporan Energy Shift Institute menyoroti paradoks dalam industri nikel Indonesia, di mana sebagian besar nilai tambah dari teknologi dan manufaktur lanjutan masih dinikmati negara lain.

🔖 Baca juga:
Isuzu Panther Mini 2026 Hadir dengan Teknologi Diesel Terbaru; Harga BBM Diesel Tetap Stabil di Hari Buruh

Produksi tambang nikel Indonesia diperkirakan mencapai 2,57 juta ton pada 2025, atau setara 61 persen pasokan nikel dunia. Angka ini meningkat sekitar 158 persen dibandingkan lima tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh pembangunan smelter dan kawasan industri yang berkembang pesat di berbagai wilayah.

Di samping itu, Goldman Sachs telah menaikkan target indeks saham negara berkembang seiring permintaan AI. Langkah ini didorong oleh pertumbuhan laba yang didorong oleh kecerdasan buatan. Goldman Sachs menaikkan target indeks acuan MSCI menjadi 2.000 dari 1.850, yang berpotensi naik hampir 12% dari penutupan terakhirnya.

🔖 Baca juga:
Perpanjangan SPT Tahunan 2025: Solusi Kendala Coretax dan Relaksasi Bagi Wajib Pajak

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar negara berkembang memiliki potensi besar untuk pertumbuhan, namun juga dihadapkan pada tantangan seperti ketergantungan pada teknologi dan manufaktur lanjutan dari negara lain. Oleh karena itu, diperlukan kerangka kerja sama yang lebih erat dan upaya membangun arsitektur ekonomi internasional yang tetap terbuka, inklusif, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Menko Airlangga Hartarto dalam sesi Ministerial Keynote and Conversation pada Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 juga menyoroti pentingnya memperkuat keamanan ekonomi dan ketahanan ekonomi nasional. Ia menjelaskan bahwa kondisi geopolitik global yang tidak menentu mendorong banyak negara untuk menerapkan berbagai kebijakan guna memperkuat keamanan ekonomi.

🔖 Baca juga:
China Lawan Sanksi AS, Indonesia Kena Dampaknya

Dalam menghadapi tantangan dan peluang ini, Indonesia perlu memperkuat industri manufaktur berteknologi tinggi dan mengembangkan kerja sama internasional yang lebih erat. Dengan demikian, Indonesia dapat mempertahankan posisinya sebagai pemain utama dalam rantai pasok energi bersih global dan meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.

Kesimpulan dari kondisi ini adalah bahwa pasar negara berkembang memiliki potensi besar untuk pertumbuhan, namun juga dihadapkan pada tantangan seperti ketergantungan pada teknologi dan manufaktur lanjutan dari negara lain. Oleh karena itu, diperlukan kerangka kerja sama yang lebih erat dan upaya membangun arsitektur ekonomi internasional yang tetap terbuka, inklusif, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *