GemaWarta – 11 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah melemah dalam beberapa hari terakhir. Pada tanggal 11 Juni 2026, rupiah ditutup melemah sebesar 0,11% ke level Rp17.985 per dolar AS. Pelemahan ini sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia lainnya, seperti yuan China, won Korea, dolar Singapura, dan rupee India.
Menurut analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, rupiah melemah karena penguatan dolar AS yang dipicu oleh eskalasi di Timur Tengah. Kondisi ini diperparah oleh sentimen risk-off di pasar ekuitas domestik dan outflow asing yang ikut menekan rupiah. Selain itu, penjualan ritel yang turun 3,7% juga membebani pasar.
Namun, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menilai bahwa kepercayaan pasar terhadap pemerintah semakin meningkat. Ia mengatakan bahwa pemerintah akan terus menjalankan berbagai program yang sedang digulirkan di tengah membaiknya kepercayaan pasar. Dasco juga mengimbau masyarakat untuk tidak terus mengoleksi dolar AS dengan harapan memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah.
Dasco menyatakan bahwa nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat dalam waktu dekat seiring strategi yang disiapkan pemerintah. Ia mengatakan bahwa kerja-kerja pemerintah yang berdampak pada pergerakan pasar dan nilai tukar rupiah. Dasco juga mengungkapkan bahwa pemerintah akan menyiapkan sejumlah langkah strategis lanjutan untuk semakin memperkuat kepercayaan pasar.
Sementara itu, analis Pasar Uang, Lukman Leong, menilai bahwa rupiah masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan terhadap dolar AS dalam perdagangan mendatang. Namun, ruang penguatan diperkirakan terbatas seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Dalam beberapa hari terakhir, rupiah telah berfluktuasi. Pada tanggal 12 Juni 2026, rupiah berbalik melemah pada perdagangan pagi, setelah sebelumnya menguat. Rupiah ada di level Rp17.958 per dolar AS, melemah 0,07 persen dari sehari sebelumnya.
Kesimpulan, rupiah melemah terhadap dolar AS karena penguatan dolar AS yang dipicu oleh eskalasi di Timur Tengah. Namun, kepercayaan pasar terhadap pemerintah semakin meningkat, dan pemerintah akan terus menjalankan berbagai program yang sedang digulirkan di tengah membaiknya kepercayaan pasar. Rupiah berpotensi kembali menguat dalam waktu dekat seiring strategi yang disiapkan pemerintah.











