Ekonomi

Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS: Faktor Utama dan Dampaknya

×

Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS: Faktor Utama dan Dampaknya

Share this article
Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS: Faktor Utama dan Dampaknya
Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS: Faktor Utama dan Dampaknya

GemaWarta – 22 Mei 2026 | Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari Jumat, 22 Mei 2026. Pelemahan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk meningkatnya ekspektasi bahwa kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve akan bertahan lebih lama. Pergerakan nilai tukar masih dipengaruhi penguatan dolar AS seiring meningkatnya ekspektasi tersebut.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini melemah 50 poin atau 0,28 persen jadi Rp17.717 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.667 per dolar AS. Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai pelemahan ini disebabkan meningkatnya ekspektasi bahwa kebijakan suku bunga The Fed akan bertahan lebih lama.

🔖 Baca juga:
Harga Minyak Mentah Mencapai US$120/barel: Dampak Mandeknya Negosiasi Damai AS‑Iran

Sentimen utama masih dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait negosiasi Amerika Serikat – Iran, potensi gangguan di Selat Hormuz, serta dinamika harga minyak dunia yang berdampak pada sentimen risiko global dan penguatan dolar AS. Selain itu, arah kebijakan The Fed, pergerakan indeks dolar AS (DXY), serta imbal hasil obligasi pemerintah AS juga masih menjadi faktor penting yang mempengaruhi pergerakan rupiah.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.717 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.673 per dolar AS. Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan tekanan impor dan inflasi domestik, sehingga menjaga stabilitas nilai tukar menjadi tantangan penting bagi otoritas moneter dalam menjaga kepercayaan pasar.

🔖 Baca juga:
PLN Ganti 2.396 PLTD dengan Energi Surya: Jawaban atas Lonjakan Harga BBM Global

Bank Indonesia (BI) pada Rapat Dewan Gubernur 19–20 Mei 2026 memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar dan mengurangi volatilitas pasar keuangan domestik. Lebih lanjut, sentimen dari dalam negeri tertuju pada langkah lanjutan BI dalam menjaga stabilitas rupiah setelah kenaikan BI-Rate, termasuk melalui penguatan intervensi di pasar valuta asing dan menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik.

Kondisi fundamental ekonomi seperti inflasi dan cadangan devisa, juga akan turut menentukan arah rupiah. Dengan demikian, pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik domestik maupun global. Oleh karena itu, penting untuk terus memantau perkembangan ekonomi dan keuangan, baik dalam negeri maupun luar negeri, untuk memahami dinamika nilai tukar rupiah.

🔖 Baca juga:
BBRI Obral Gede! Harga Saham Turun ke Rp3.240, Saatnya Beli atau Tunggu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *