Ekonomi

Wall Street Melonjak: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Lagi!

×

Wall Street Melonjak: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Lagi!

Share this article
Wall Street Melonjak: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Lagi!
Wall Street Melonjak: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Lagi!

GemaWarta – 21 Mei 2026 | Wall Street kembali menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi lagi. Ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya, Wall Street mengalami penurunan akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Ilustrasi perdagangan saham Wall Street. Pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street kompak ditutup melemah. Tekanan datang dari lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan reli pasar saham.

🔖 Baca juga:
Blokade Ganda di Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Energi dan Kekhawatiran Ekonomi Global

Semua indeks utama Wall Street merosot, seperti indeks S&P 500 turun 0,67 persen ke level 7.353,61 dan mencatat penurunan tiga hari berturut-turut. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average merosot 322,24 poin atau 0,65 persen ke posisi 49.363,88. Di sisi lain, Nasdaq Composite ditutup melemah 0,84 persen di level 25.870,71.

Pelaku pasar menyoroti lonjakan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun yang sempat menembus 5,19 persen, level tertinggi dalam hampir 19 tahun. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah jangka pendek juga naik hingga 4,687 persen, tertinggi sejak Januari 2025.

Kenaikan yield obligasi tersebut dipicu kekhawatiran inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga minyak dunia di tengah konflik Iran. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan menekan konsumsi masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi AS.

Para pengawas pasar obligasi sedang beraksi saat ini, kata Kepala Investasi Prime Capital Financial, Will McGough. Semua orang memperkirakan harga energi akan tetap tinggi, yang dapat menyebabkan inflasi yang ikut melonjak, lanjut dia.

🔖 Baca juga:
Santos Berpotensi Meningkatkan Saham Setelah Mengumumkan Proyek Baru

McGough menyebut investor obligasi tampaknya mulai mengirim sinyal bahwa bank sentral AS atau The Fed dianggap terlambat mengendalikan inflasi, terutama menjelang pelantikan Kevin Warsh sebagai ketua baru Federal Reserve pada Jumat mendatang.

Ada narasi bahwa ketua Fed yang baru cenderung diuji oleh pasar, ujarnya kepada CNBC. Anda bisa melihat para pengawas pasar obligasi jelas sedang mengujinya di sini, jika Anda mempercayai tema tersebut, tambah McGough.

Dari pasar energi, harga minyak mentah dunia sedikit turun setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran. Keputusan itu diambil usai adanya permintaan dari tiga kekuatan regional Timur Tengah agar AS menunda langkah militer tersebut.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni turun 0,82 persen menjadi 107,77 dolar AS per barel. Sedangkan minyak mentah Brent pengiriman Juli melemah 0,73 persen ke level 111,28 dolar AS per barel.

🔖 Baca juga:
Harga Minyak Dunia Turun Setelah Konflik AS-Iran Memasuki Tahap Penyelesaian

Meski begitu, sentimen geopolitik masih membayangi pasar setelah laporan The Wall Street Journal menyebut AS menyita kapal tanker minyak yang terkait dengan Iran di Samudra Hindia.

Kesimpulan dari peningkatan ini menunjukkan bahwa Wall Street masih memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang, namun perlu diwaspadai bahwa kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian kebijakan moneter dapat mempengaruhi pasar saham.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *