GemaWarta – 17 April 2026 | Seorang ibu muda bernama Nina Saleha (27) hampir kehilangan bayinya yang baru lahir pada 1 April 2026 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Insiden terjadi pada hari kepulangan setelah bayi dirawat di ruang inkubator karena kondisi kuning. Saat Nina dan suaminya keluar makan sebentar, mereka kembali ke unit NICU dan menemukan seorang wanita berinisial “W” memegang bayi yang tampak memakai selimut biru dan pakaian yang sama persis dengan milik anak mereka.
Nina langsung menghentikan wanita tersebut dan memeriksa ruang inkubator; bayi mereka ternyata tidak ada. Setelah konfrontasi singkat, wanita itu mengakui bahwa bayi itu memang milik Nina, namun tidak menjelaskan bagaimana ia dapat memegangnya. Nina melaporkan kejadian itu kepada petugas perawat dan staf rumah sakit, namun respons awal yang diberikan tidak memuaskan. Salah satu perawat yang bertugas memberi jawaban singkat, “Iya gitu?” ketika ditanya bagaimana bayi bisa berada di tangan orang lain.
Di tengah kebingungan, Nina sempat mendengar percakapan suami wanita tersebut yang mengucapkan, “Sudah transfer ya,” yang menambah kecurigaan bahwa ada unsur pembayaran atau kompensasi di balik kejadian. Nina mengaku tidak mengetahui untuk apa transfer itu, namun pernyataan tersebut membuatnya semakin khawatir bahwa ada niat jahat di balik penyerahan bayi yang keliru.
Setelah insiden tersebar melalui podcast Denny Sumargo dan video TikTok, rumah sakit mengambil langkah cepat. Direktur Utama RSHS, Dr. Rachim Dinata Marsidi, mengumumkan bahwa perawat yang terlibat telah dinonaktifkan sementara untuk keperluan investigasi internal. Selain itu, manajemen rumah sakit membentuk tim khusus untuk menelusuri prosedur penyerahan bayi dan berkoordinasi dengan keluarga serta lembaga terkait.
Pihak rumah sakit juga memberikan pernyataan resmi yang menegaskan tidak adanya praktik jual‑beli bayi. “Isu terkait praktik ilegal tidak benar. Kami menyambut keluhan dan masukan masyarakat sebagai bagian dari evaluasi layanan,” ujar Dr. Rachim. Selanjutnya, rumah sakit melaporkan kejadian ini kepada Kementerian Kesehatan dan bersedia menerima arahan untuk perbaikan SOP penyerahan bayi.
Reaksi pemerintah daerah dan lembaga pengawas pun muncul. Kadinkes Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, menekankan pentingnya evaluasi mutu layanan dan kepatuhan terhadap SOP keselamatan pasien. Sekda Jawa Barat, Herman Suryatman, meminta audit menyeluruh terhadap prosedur ibu dan anak di RSHS. Anggota DPRD Jawa Barat, Zaini Shofari, mengkritik adanya celah pengawasan yang berpotensi dimanfaatkan sindikat perdagangan anak.
Satreskrim Polrestabes Bandung juga membuka penyelidikan kriminal. Kasat Reskrim, AKBP Anton, memastikan penyelidikan akan menelusuri apakah ada unsur pidana, termasuk kelalaian atau penyalahgunaan wewenang petugas medis. Sementara itu, keluarga Nina, yang didampingi kuasa hukum Mira Widyawati, menolak perdamaian sepihak yang ditawarkan rumah sakit karena dianggap tidak mengikat secara hukum.
Berikut rangkaian kronologis singkat yang dirangkum dari berbagai laporan:
- 1 April 2026: Bayi Nina lahir di RSHS Bandung.
- Beberapa hari kemudian: Bayi dirawat di ruang inkubator karena penyakit kuning.
- 16 April 2026: Nina dan suami keluar makan; saat kembali, mereka menemukan wanita berinisial W memegang bayi yang tampak sama.
- Nina menghentikan wanita tersebut, memeriksa ruang inkubator, dan menemukan bayi tidak ada.
- Percakapan “Sudah transfer” terdengar, menambah kecurigaan.
- RSHS menonaktifkan perawat terkait dan membentuk tim investigasi.
- Pihak Kemenkes, Dinas Kesehatan Jawa Barat, DPRD, dan Polri terlibat dalam penilaian dan penyelidikan.
Kasus ini membuka kembali perdebatan mengenai keamanan prosedur penyerahan bayi di rumah sakit publik. Sejumlah laporan terdahulu mengindikasikan adanya keluhan serupa, meski belum terkonfirmasi secara resmi. Kritik publik menyoroti kurangnya kontrol identitas bayi, seperti gelang identitas yang dikatakan sempat dipotong atau dipindahkan, serta kurangnya audit rutin pada proses administrasi.
Dalam upaya memulihkan kepercayaan, RSHS berjanji akan memperkuat pelatihan SOP bagi seluruh staf perawat, meningkatkan verifikasi ganda pada penyerahan bayi, dan melaporkan hasil audit kepada Kementerian Kesehatan. Sementara itu, Nina Saleha masih menjalani pemulihan mental dengan bantuan psikolog, mengingat trauma yang dialaminya berdampak pada tidur, nafsu makan, dan kesejahteraan emosional.
Kasus ini menjadi contoh penting bagi institusi kesehatan di seluruh Indonesia untuk meninjau kembali prosedur keamanan pasien, terutama pada unit kritis seperti NICU. Jika tidak ditangani secara menyeluruh, kejadian serupa dapat menimbulkan kerugian psikologis yang mendalam bagi keluarga serta menurunkan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan nasional.







