GemaWarta – 09 Agustus 2026 | Ambles, sebuah kata yang memiliki makna yang berbeda-beda tergantung konteksnya. Dalam dunia saham, ambles bisa berarti penurunan nilai saham secara signifikan. Sementara itu, dalam konteks bencana alam, ambles bisa berarti tanah yang mengalami penurunan atau longsor.
Baru-baru ini, saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mengalami penurunan sebesar 35,23% dalam sepekan, dari posisi Rp880 menjadi Rp570 per saham. Penurunan ini terjadi di tengah penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 2,78% dan ditutup di level 6.409,654.
Namun, ambles tidak hanya terjadi dalam dunia saham. Di Kalimantan Timur, longsor terjadi di Kampung Muara Bunyut, Kecamatan Melak, Kabupaten Kutai Barat, yang menyebabkan empat rumah warga ambruk ke Sungai Mahakam bersama satu unit mobil pikap dan sekitar 30 sepeda motor. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini karena warga berhasil menyelamatkan diri sebelum longsor terjadi.
Sebelum longsor terjadi, warga sudah menyadari adanya tanda-tanda pergerakan tanah, seperti suara retakan tanah dan kabel yang bergeser. Namun, tidak ada yang menyangka bahwa longsor akan terjadi sebesar itu.
Sementara itu, harga acuan minyak sawit mentah (CPO) juga mengalami penurunan pada Agustus 2026, turun 0,44% menjadi 996,52 dolar AS per metrik ton. Penurunan ini dipengaruhi oleh lesunya permintaan global dan penurunan harga minyak mentah dunia.
Di Jakarta, proyek revitalisasi Kali Cakung Lama yang dikerjakan Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta juga menyebabkan keretakan rumah dan bangunan masjid di sekitar lokasi. Warga mengeluhkan dampak proyek ini, seperti keretakan tembok, akses jalan yang ambles, dan debu yang meresahkan.
Dalam kesimpulan, ambles bisa terjadi dalam berbagai konteks, dari saham hingga bencana alam. Oleh karena itu, penting untuk selalu waspada dan menyadari adanya tanda-tanda pergerakan tanah atau perubahan lainnya yang bisa berdampak signifikan.











