Bencana Alam

Gempa Palu: BNPB Bangun Hunian Sementara dan Potensi Likuefaksi di Sulteng

×

Gempa Palu: BNPB Bangun Hunian Sementara dan Potensi Likuefaksi di Sulteng

Share this article
Gempa Palu: BNPB Bangun Hunian Sementara dan Potensi Likuefaksi di Sulteng
Gempa Palu: BNPB Bangun Hunian Sementara dan Potensi Likuefaksi di Sulteng

GemaWarta – 19 Juni 2026 | Gempa bumi dengan magnitudo 6,7 telah mengguncang wilayah Sigi, Parimo, Donggala, dan Kota Palu, Sulteng, pada Selasa (16/6) pukul 10.27 WIB. Bencana ini telah menyebabkan kerusakan parah pada rumah-rumah dan infrastruktur di daerah tersebut.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah segera memulai pembangunan hunian sementara (huntara) untuk masyarakat terdampak bencana gempa bumi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Kepala BNPB Suharyanto mengaku memberikan pilihan kepada korban bencana gempa bumi untuk tinggal di huntara atau memperoleh dana tunggu hunian yang diterima setiap bulan selama tiga bulan.

🔖 Baca juga:
Terbaru: Kasus Kriminal dan Bencana Alam yang Mengguncang Dunia

BNPB juga telah membagikan dana tunggu hunian sebesar Rp600 ribu per bulan untuk setiap kepala keluarga yang tidak ingin tinggal di huntara. Pemberian dana tunggu hunian ini merupakan hal yang juga diberlakukan saat terjadi bencana di daerah lain.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi telah mencatat jumlah rumah rusak akibat bencana gempa bumi. Jumlahnya kini mencapai 2.319 unit, terdiri atas rusak ringan 1.966 unit, rusak sedang 219 unit, dan rusak berat 134 unit. Jumlah korban terdampak sebanyak 8.586 jiwa dengan 2.762 kepala keluarga.

🔖 Baca juga:
El Niño 2026: Ancaman Kering dan Banjir di India dan Dunia

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memetakan sejumlah wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang memiliki peluang dan kerentanan tinggi mengalami fenomena likuefaksi atau pencairan tanah pascaguncangan gempa bermagnitudo 6,7.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan bahwa berdasarkan pemutakhiran peta pemantauan teknis, terdapat empat kabupaten/kota yang kini perlu mendapatkan perhatian intensif, yaitu Kabupaten Sigi, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, dan sebagian Kabupaten Poso.

🔖 Baca juga:
Danau Toba: Permata Wisata Indonesia yang Menyimpan Banyak Cerita

Badan Geologi menilai kajian mikrozonasi yang lebih rinci dan spesifik mutlak diperlukan guna menentukan klasifikasi tingkat risiko secara mendalam pada tiap-tiap lokasi di empat wilayah tersebut. Data serta peta sebaran potensi likuefaksi yang dirilis ini diharapkan dapat menjadi rujukan fundamental bagi jajaran pemerintah daerah setempat dalam merumuskan kebijakan penataan ruang dan zonasi wilayah aman.

Kesimpulan dari bencana gempa bumi di Sulteng ini adalah bahwa pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk meminimalkan dampak bencana dan memulihkan daerah yang terkena dampak. Pembangunan hunian sementara dan pemberian dana tunggu hunian adalah langkah-langkah yang tepat untuk membantu korban bencana, namun perlu diingat bahwa potensi likuefaksi masih tinggi di beberapa wilayah di Sulteng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *