Kesehatan

Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar: Apa yang Perlu Diketahui?

×

Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar: Apa yang Perlu Diketahui?

Share this article
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar: Apa yang Perlu Diketahui?
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar: Apa yang Perlu Diketahui?

GemaWarta – 09 Mei 2026 | Kasus wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius telah menjadi perhatian internasional setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan investigasi terhadap kematian tiga penumpang pada awal Mei 2026.

Kapal yang membawa 149 penumpang dan kru dari 23 negara itu dilaporkan sedang beroperasi di sekitar perairan Tanjung Verde, Afrika Barat, ketika sejumlah penumpang mulai mengalami gejala penyakit serius.

🔖 Baca juga:
Hantavirus: Apa yang Perlu Anda Ketahui tentang Virus Langka yang Membunuh Tiga Penumpang Kapal Pesiar

Menurut Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, pemerintah saat ini terus memantau perkembangan kasus hantavirus yang terjadi di kapal pesiar tersebut. Ia mengatakan bahwa penyebaran virus masih terkonsentrasi di area kapal dan belum meluas ke berbagai negara.

Budi menjelaskan, bentuk skrining yang dipersiapkan pemerintah nantinya bisa berupa rapid test seperti saat pandemi COVID-19 maupun penggunaan reagen pada mesin PCR untuk mendeteksi infeksi hantavirus. Untuk sementara ini, Kemenkes masih memfokuskan langkah pada penguatan surveilans dan pemantauan kasus secara ketat.

Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), Laura Navika Yamani, memberikan pandangannya terkait fenomena ini. Menurutnya, virus ini kecil kemungkinan muncul secara tiba-tiba di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar tanpa adanya sumber paparan awal.

🔖 Baca juga:
Steven Wongso Disentil Balik: Edukasi Gula Martabak vs. Bahaya Steroid Anabolik

Laura menilai, para pasien kemungkinan besar sudah terpapar virus sebelum perjalanan dimulai atau saat berada di wilayah yang menjadi habitat hewan pengerat (reservoir). Ia menjelaskan bahwa masa inkubasi Hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu, sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi.

Secara klinis, gejala awal Hantavirus seringkali menipu karena mirip dengan flu biasa, seperti demam, kelelahan, dan gangguan pencernaan. Namun, kondisi ini bisa memburuk dengan sangat cepat. Penyakit ini dapat berkembang menjadi pneumonia berat, Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), hingga syok.

Bentuk paling berbahaya dari infeksi ini adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30–50 persen, terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat.

🔖 Baca juga:
Mengenal Jejak Duka Dr. Myta: Kronologi Sakit hingga Meninggal

Menghadapi ancaman ini, Laura mendorong penguatan sistem surveilans kesehatan dan penerapan pendekatan One Health. Pendekatan ini mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara bersamaan.

Kesimpulan, wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius merupakan peringatan penting bagi dunia internasional tentang risiko penyakit zoonosis. Penguatan sistem surveilans kesehatan dan penerapan pendekatan One Health merupakan langkah-langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *